Bolehkah Melakukan Jual Beli Babi?

Pertanyaan:

Salah satu hama yang sering merusak lahan perkebunan warga adalah babi hutan. Umumnya untuk memusnahkannya, petani memasang perangkap untuk menjerat babi hutan tersebut. Saat babi hutan terjerat maka para petani akan memanggil orang Nasrani dari kampung lain untuk melakukan barter atau tukar menukar barang. Barang yang di barter adalah babi hutan hasil jeratan ditambah tali bekas jeratan di tukar dengan tali yang baru.

Tujuan dari barter tersebut adalah agar petani mendapatkan tali untuk jerat yang baru dan tidak menggunakan kembali tali yang terkena najis dari babi. Barter tersebut juga dilakukan agar babi yang terjerat tidak mati dan menjadi bangkai di perkebunan warga dan juga agar proses pelepasan babi dari jerat dapat dilakukan oleh orang Nasrani sehingga petani terhindar dari menyentuh babi.

Pertanyaannya, apakah barter atau tukar menukar barang tersebut halal atau haram, mengingat petani menyerahkan ternak atau makanan haram untuk orang lain? Syukron.

Jawaban:

Jual beli barter termasuk dalam bab jual beli yang disyariatkan dan masuk pada keumuman jual beli. Disebut dengan jual beli Al-Muqayadhah atau tukar menukar antara barang dengan barang, sehingga berlaku atasnya rukun dan syarat jual beli yakni masing-masing barang yang dipertukarkan (di barter) adalah barang yang halal atau memiliki manfaat yang diperbolehkan oleh syariat. Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ حَرَّمَ بَيْعَ الخَمْرِ، وَالمَيْتَةِ، وَالخِنْزِيرِ، وَالأَصْنَامِ، فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ شُحُومَ المَيْتَةِ، فَإِنَّهُ يُطْلَى بِهَا السُّفُنُ، وَيُدْهَنُ بِهَا الجُلُودُ، وَيَسْتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ، قَالَ: لَا هُوَ حَرَامٌ

“Sesungguhnya Allah telah melarang jual beli khamr, bangkai, babi, dan berhala.” Ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu dengan lemak bangkai? Sebab biasa digunakan untuk mencat kapal, meminyaki kulit, dan dipakai sebagai penerangan (pelita) oleh manusia?” Beliau menjawab: “Tidak, itu tetap haram.” (HR. At-Tirmidzi: 1297 dari Jabir bin Abdillah)

Hadits di atas jelas mengharamkan jual beli babi dan barter termasuk dari akad jual beli. Bukan hanya jual beli dan barter, bahkan memanfaatkan babi untuk kepentingan pribadi –bukan dijual atau ditukarkan lagi- walau bukan untuk dimakan tetap diharamkan sebagaimana yang berlaku pada bangkai, apatah lagi jika dipertukarkan.

Di samping itu, memberikan babi untuk orang Nasrani juga haram hukumnya, karena termasuk dari perkara tolong menolong dalam dosa dan maksiat. Apatah lagi babi sendiri telah diharamkan sejak masa para nabi terdahulu sebagaimana yang diakui oleh Bibel mereka sendiri. Terkait petani yang merasa najis dengan babi yang terdapat pada tali jeratan tersebut, maka itu bukanlah alasan. Karena najis tersebut bisa disucikan dengan air, sehingga petani tidak memerlukan tali baru atau mengganti tali untuk menjerat setiap babi hutan yang masuk ke ladang. Menyentuh babi tidaklah haram selama ada hajat untuk itu meski ia najis. Bukankah manusia setiap hari juga menyentuh najis yang keluar dari dirinya sendiri ketika menyucikannya dirinya dari najis tersebut, seperti air kencing dan kotoran yang keluar dari duburnya?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar