Di antara aqidah Islam dan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah Tuhan yang menjadi sesembahan dan Dzat yang diibadahi oleh umat Islam memiliki nama yang dengan nama itu Dia diseru dan diibadahi. Nama tersebut Dia sendiri yang menetapkannya melalui wahyu-Nya kepada para nabi dan rasul. Dia sendiri yang memilihnya dan menyampaikannya kepada hamba-hamba-Nya, sehingga tiada yang berhak memberi-Nya nama atau menamai-Nya kecuali diri-Nya sendiri. Inilah salah satu kandungan utama dari ayat:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang” (QS. Al-Fatihah).
Dia juga menegaskannya dalam beberapa ayat Al-Quran, bahkan menyebut bahwa nama-Nya bukan hanya satu. Firman-Nya:
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى
“Katakanlah (wahai Muhammad), panggillah Allah atau panggillah Ar-Rahman. Mana saja yang kalian panggil, maka bagi-Nya Asma-ul Husna...” (QS. Al-Isra: 110).
Dia secara lugas dan gamblang menyebutkan siapa nama-Nya tatkala berfirman secara langsung kepada Musa:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada yang sesembahan selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Ya, nama-Nya adalah Allah. Ini berbeda dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang justru cenderung ambigu dalam menetapkan nama bagi Tuhan. Mereka tidak memiliki prinsip dalam menyebut nama Tuhan yang mereka sembah. Ada yang beralasan “karena nama Tuhan tidak boleh disebut secara serampangan”, ini dalih kaum Yahudi dan ada juga yang beralasan “nama itu tidak penting, terserah mau memanggil Tuhan dengan nama apa saja”, ini alasan kaum Nasrani.
Kaum Yahudi akhirnya kehilangan jati diri dalam memanggil nama Tuhan, sehingga mereka berdoa cukup dengan memakai kata adonai (bahasa Ibrani: Tuhanku), sedangkan kaum Nasrani memberi kebebasan bagi siapa saja untuk menamai Tuhan walau mereka lebih familiar dengan istilah Bapa. Ambiguisitas itu terlihat dalam Torat Ibrani (istilah Yahudi) atau Perjanjian Lama (istilah Nasrani) tatkala membicarakan nama-Nya:
Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? — apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (Keluaran 3: 13-14).
Berbeda dengan ayat Al-Quran di atas. Inilah barangkali mengapa Allah menegaskan berulang kali tentang nama-Nya dalam Al-Quran dan menjelaskan bahwa Dia memiliki nama yang digunakan untuk beribadah dan berdoa kepada-Nya, agar umat Islam tidak menjadi seperti kedua kelompok yang menyimpang tersebut.
Sebuah Ambiguisitas
Ambiguisitas (ketidakjelasan) dan kebingungan kaum Yahudi dan Nasrani dalam menetapkan nama Tuhan akhirnya menimbulkan polemik bagi mereka sendiri, khususnya di beberapa negara Muslim, seperti yang terjadi di Malaysia akhir-akhir ini, di mana mereka menuntut agar diperbolehkan menggunakan nama “Allah” untuk Tuhan mereka dan ditentang oleh sebagian umat Islam di sana. Hal yang sama juga terjadi Indonesia, hanya saja umat Islam Indonesia tidak begitu mempermasalahkannya. Padahal istilah atau kata “Allah” berasal dari bahasa Arab, bukan bahasa Ibrani (bahasa Asli Perjanjian Lama) maupun bahasa Yunani (bahasa Asli Perjanjian Baru). Sedangkan di beberapa negara, kaum Nasrani Kristen hanya mencukupkan pada istilah Tuhan saja seperti istilah “God” dan “GodFather” (Tuhan Bapa) dalam bahasa Inggris.
Lain Yahudi dan Nasrani dalam menetapkan nama Tuhan, lain lagi kaum paganis musyrik dalam memperlakukan nama bagi sesembahan mereka. Adapun kaum paganis, mereka justru memberi nama seenaknya pada sesembahan mereka tanpa ada dasarnya sama sekali. Hal tersebut disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran ketika melukiskan dialog antara Yusuf dan para penyembah berhala di Mesir:
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
“Tidaklah kalian beribadah kepada selain-Nya melainkan (beribadah kepada) nama-nama yang dinamai oleh kalian dan nenek moyang kalian dahulu, yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang hal itu. Sesungguhnya ketetapan itu hanya milik Allah semata...” (QS. Yusuf: 40)
Demikian juga celaan Allah kepada kaum Musyrik Makkah pada masa Rasulullah:
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ
“Tidaklah (berhala) itu melainkan nama-nama yang telah kalian dan nenek moyang kalian namai, yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang hal itu. Tidaklah kalian kecuali hanya mengikuti dugaan dan hawa nafsu (kalian)....” (QS. An-Najm: 23)
Bahkan mereka juga tidak setuju dan menolak ketika Allah menamai diri-Nya sendiri, padahal Allah-lah yang berhak menamai diri-Nya sendiri, bukan selain-Nya. Allah berfirman tentang kelakuan orang musyrik:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا
“Dan apabila disampaikan kepada mereka, “bersujudlah kepada Ar-Rahman!” Mereka berkata, “Apa Ar-Rahman itu? Mengapa kami harus sujud karena perintah kalian...” (QS. Al-Furqan: 60).
Kelancangan dalam menamai juga dilakukan oleh kaum Musyrik terhadap para malaikat. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَى. وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama perempuan, padahal tiada ilmu bagi mereka mengenai hal itu. Mereka tidak lain hanya mengikuti sangkaan....” (QS. An-Najm: 27-28).
Dari sini kita menemukan mengapa nama Tuhan amat gamblang dan tegas diajarkan dalam Islam, agar terhindar dari ambiguisitas seperti kaum Ahli Kitab dan juga tidak terjatuh pada kebodohan dan berakhir pada kelancangan sebagaimana yang menimpa kaum Musyrik. Islam hanya menamai Dzat yang disembah dan diibadahi oleh umat Islam berdasarkan wahyu yang disampaikan oleh Nabi-Nya, yaitu Al-Quran dan Sunnah. Tanpa menambahi, mengurangi, mengada-ada, dan menafikan. Dengan nama itu kaum muslim beribadah kepada-Nya. Nama itu dimaknai dengan kesempurnaan serta keagungan yang tidak sama dengan nama pada selain-Nya dan nama itu bukanlah makhluk sebagaimana nama yang terdapat pada selain-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar