Selamat Natal Ada Dalilnya Dalam Al-Quran?

 Ada seorang tokoh yang katanya "ahli tafsir"  mengatakan bahwa bolehnya mengucapkan selamat natal berdasarkan dalil dalam Al-Quran. Sebuah ucapan dan pendalilan yang tidak pernah diucapkan oleh ahli tafsir klasik mana pun yang diakui kredibilitas keilmuannya. Walau pun sejatinya ucapannya tersebut hanyalah bahan tertawaan bagi para penuntut ilmu. Orang yang imannya bagus juga akan faham bahwa pendalilannya tersebut amat sangat dipaksakan.

Kita perlu hati-hati dalam menerima pendapat para cendikiawan hari ini, khususnya mereka yang katanya sebagai “ahli tafsir”. Sebab, Allah menyampaikan dalam Al-Quran akan ada orang-orang yang akan muncul menyesatkan umat dengan cara menafsirkan Al-Quran itu. Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ

“Dialah yang telah menurunkan Kitab (Al-Quran) atasmu (wahai Muhammad), di dalamnya terdapat ayat-ayat yang muhkam Ummul Kitab, dan terdapat (ayat-ayat) lainnya yang mutasyabihat (samar-samar). Maka adapun orang-orang yang di dalam hati mereka terdapat kesesatan, mereka akan mengikuti ayat yang samar-samar guna menimbulkan fitnah dan mencari-cari takwilnya...” (QS. Ali Imran: 8)

Karena itulah Umar pernah mewanti-wanti hal ini melalui ucapan beliau kepada Ziyad bin Hudair, “Apakah engkau tahu apa yang menghancurkan Islam?” Ziyad menjawab, “Tidak.” Umar pun menjawab:

يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ، وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الْأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ

“Islam akan dihancurkan oleh tersesatnya seorang alim (ulama), kaum munafik mampu berdebat dengan Al-Quran, dan pemerintahan rezim-rezim yang menyesatkan.” (AR. Ad-Darimi: 220. Dishahihkan oleh Syaikh Husain Salim Asad dalam Ta’liq Sunan Ad-Darimi I/295)

Dan di antara ciri-ciri kaum munafik adalah senang berpihak dan menggembirakan orang-orang kafir, bahkan membantu mereka meski dengan menabrak aqidah Islam dan merugikan kaum Muslim. Ini juga Allah sebutkan dalam Al-Quran:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ

“Apakah kamu (Muhammad) tidak memperhatikan orang-orang munafik. Mereka mengatakan kepada saudara-saudara mereka (yaitu) orang-orang kafir dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani), “Jika kalian diusir, kami sungguh akan keluar bersama kalian, kami tidak akan menaati seorang pun dalam (ketaatan kepada) kalian. Dan jika kalian diperangi, kami pasti akan menolong kalian....” (QS. Al-Mumtahanah: 11).

Lihatlah bagaimana Allah mempersaudarakan kaum munafik dengan kaum kafir dari ahli Kitab. Jika kaum mukmin Allah persaudarakan dengan sesama mukmin, adapun kaum munafik (orang-orang yang mengaku mukmin) Allah persaudarakan dengan kaum kafir. Sungguh, inilah yang kita lihat di masa kini. Firman Allah ini bisa kita jadikan parameter untuk mewanti-wanti manakah kaum munafik yang berbaju “tokoh Islam” atau berjubah “ulama” dan manakah kaum  mukmin sejati yang sesuai dengan syariat Islam.

Termasuk salah satu pandangan yang digelorakan kaum munafik dan diikuti oleh sebagian muslim yang jahil adalah kebolehan mengucapkan selamat pada perayaan keagamaan umat lain. Suatu pandangan yang tidak pernah dikenal oleh ulama Islam sejak dahulu. Justru para ulama dahulu menyebutkan sebaliknya. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah mengatakan:

وَأَمَّا التَّهْنِئَةُ بِشَعَائِرِ الْكُفْرِ الْمُخْتَصَّةِ بِهِ فَحَرَامٌ بِالِاتِّفَاقِ مِثْلَ أَنْ يُهَنِّئَهُمْ بِأَعْيَادِهِمْ وَصَوْمِهِمْ، فَيَقُولَ: عِيدٌ مُبَارَكٌ عَلَيْكَ، أَوْ تَهْنَأُ بِهَذَا الْعِيدِ، وَنَحْوَهُ، فَهَذَا إِنْ سَلِمَ قَائِلُهُ مِنَ الْكُفْرِ فَهُوَ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ، وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ أَنْ يُهَنِّئَهُ بِسُجُودِهِ لِلصَّلِيبِ، بَلْ ذَلِكَ أَعْظَمُ إِثْمًا عِنْدَ اللَّهِ وَأَشَدُّ مَقْتًا مِنَ التَّهْنِئَةِ بِشُرْبِ الْخَمْرِ وَقَتْلِ النَّفْسِ وَارْتِكَابِ الْفَرْجِ الْحَرَامِ وَنَحْوِهِ

“Dan adapun mengucapkan selamat terhadap syiar-syiar kekafiran yang sifatnya khusus, maka ini haram menurut kesepakatan (para ulama), seperti mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka dan puasa mereka, dengan mengatakan: “Ini adalah hari raya yang diberkati atasmu”, selamat untukmu atas hari raya ini”, dan semisalnya. Ini, andaikan pun orang yang mengatakannya tidak sampai kafir, namun hal itu termasuk perkara yang diharamkan. Ini sama dengan kedudukan mengucapkan selamat kepada orang yang bersujud kepada salib. Bahkan ucapan itu lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih jahat daripada mengucapkan selamat karena minum khamar, membunuh orang lain, berzina, dan semisalnya...” (Ahkamu Ahliz Dzimmah I/443)

Jikalau para ulama telah ijma’ (sepakat) akan haramnya mengucapkan selamat untuk hari raya umat lain, siapa pun yang datang dengan pendapat yang menyelisihi ijma’ tersebut, maka pendapat tersebut batil dan tertolak. Baik pendapat itu datang dari ulama, mufti, menteri agama, hingga presiden sekali pun. Apatah lagi hanya sekedar tokoh-tokoh yang dianggap “ulama” atau yang diulama-ulamakan. Ini tidak ada bedanya dengan kondisi jika seandainya ada ulama atau ahli fatwa yang menghalalkan minum khamar, zina, hubungan sesama jenis, dan lain sebagainya, maka fatwa dan pendapatnya batil dan tertolak karena menabrak konsensus para ulama yang telah tetap sejak dahulu.

Di antara cara kaum munafik untuk menyesatkan umat Islam adalah dengan memperbolehkan selamat natal bagi orang yang merayakannya. Lalu mengatakan bahwa hal itu ada dalilnya dalam Al-Quran. Dalilnya -menurut mereka- adalah firman Allah:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan keselamatan atasku di hari aku dilahirkan, di hari aku mati, dan di hari aku dibangkitkan dalam keadaan hidup (di hari kiamat nanti).” (QS. Maryam: 33)

Jika pendalilan tersebut datang dari mulut orang awam yang jahil terhadap agama, kita dapat memakluminya. Namun jika itu datang dari orang yang katanya sudah menjadi profesor, tentu kita akan mempertanyakan keimanan yang ada pada dirinya. Atas dasar apa ia mengatakan hal itu? Mengapa dia berani menabrak kesepakatan para ulama? Ini bukan dalil, tapi mencari-cari dalil! Bagaimana bisa pendapat segelintir orang zaman now dapat menyaingi dan membatalkan konsensus ratusan dan ribuan ulama umat Islam dari berbagai madzhab lintas generasi dari zaman ke zaman?!

Jika kita fokus pada pendalilan mereka melalui ayat di atas, ini amatlah lucu. Bagaimana tidak?! Ia menganggap kalimat “assalaamu ‘alayya yauma wulidtu” (keselamatan atasku di hari aku dilahirkan) bermakna ucapan selamat atas kelahiran Nabi Isa. Ini amat nyleneh. Sebab jika kita fahami ayat tersebut mengandung makna bolehnya mengucapkan selamat natal –dengan keyakinan Nabi Isa lahir di hari Natal- dengan demikian kita pun juga diperbolehkan mengucapkan selamat atas kematian Nabi Isa. Muslim mana yang berbangga dengan kematian seorang nabi?![1] Karena jika kita memahami ayat tersebut dengan utuh, maknanya akan menuntut demikian. Kecuali jika ayatnya difahami sepenggal-penggal, lalu diubah maknanya sesuai dengan hawa nafsu si “tukang tafsir.” Memotong-motong ayat lalu serampangan menafsirkannya adalah sifatnya kaum munafik tanpa diragukan lagi.

Di sinilah kita tegaskan, tidak mungkin memahami ayat tersebut atau kata “assalaamu ‘alayya” sebagai ucapan selamat dalam arti perayaan atau merayakan. Namun hendaknya diartikan sebagai doa keselamatan atau tanggapan atas tuduhan yang diarahkan oleh sebagian Bani Israil terhadap Nabi Isa, sebagaimana yang difahami oleh para pakar tafsir mulai sejak dulu. Di samping itu, mengucapkan kata “assalaamu” untuk perayaan tertentu bukanlah khas gramatika bahasa orang Arab . Kata “assalaamu” baik dalam Al-Quran maupun kebiasaan orang Arab digunakan sebagai doa atau pujian, bukan selamat untuk perayaan atau acara tertentu. Berbeda dengan makna “selamat” dalam bahasa Indonesia yang memang biasa digunakan sebagai ungkapan suka cita untuk momen-momen tertentu seperti perayaan dan lain sebagainya. Inilah mengapa kami heran kepada ahli tafsir yang katanya profesor tersebut?! Bagaimana bisa permasalahan kata serapan yang remeh seperti ini dia gunakan untuk melegitimasi pendapatnya. Tidak adakah pendalilan yang lebih intelektual selain cara seperti ini?! Tentu bagi muslim yang jahil, terlebih yang tidak mengerti bahasa Arab akan terkecoh dengan argumentasi konyolnya tersebut, tetapi menjadi bahan tertawaan bagi para penuntut ilmu bahkan penuntut ilmu yang masih tingkat dasar sekali pun.

Andaikan pun itu bermakna ucapan selamat –tidak mungkin ditafsirkan sebagai ucapan selamat-, maka ini tertolak dari beberapa sisi:

Pertama, tidak ada yang dapat memastikan bahwa Nabi Isa lahir pada 25 desember. Bahkan hal itu tidak sedikit pun disebutkan dalam injil yang dipakai oleh kaum Kristen. Apatah lagi, sebagian sekte mereka (Ortodoks Rusia) meyakini bahwa Nabi Isa lahir pada tanggal 7 januari. Bahkan sebagian aliran mereka tidak merayakan natal sama sekali, seperti kalangan Adven dan Saksi Jehovah. Permasalahan benar atau tidaknya Nabi Isa lahir pada 25 desember sudah menjadi perbincangan yang hangat dan sengit di kalangan ahli agama mereka sendiri. Dalam literatur Islam tidak disebutkan sama sekali secara pasti kapan beliau lahir. Jika kita memaksakan mengucapkan selamat natal, maka sama saja kita melakukan sesuatu atas dasar dugaan, tanpa ilmu, dan sesuatu yang sifatnya belum pasti. Memiliki keyakinan yang tidak ditopang atas dasar ilmu adalah salah satu sifat kaum Jahiliah dan penyembah berhala yang Allah cela. Firman Allah:

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

 “Ketahuilah, sesungguhnya hanya milik Allah siapa saja yang ada di langit dan siapa saja yang ada di bumi. Dan adapun yang diikuti oleh orang-orang yang menyembah kepada selain Allah sebagai sekutu-sekutu (bagi-Nya), sungguh mereka tidaklah mengikuti selain hanya dugaan saja dan tidaklah mereka kecuali hanya mengada-ada." (QS. Yunus: 66)

Demikian juga ketika Allah mencela para pengingkar hari akhir:

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنْثَى (27) وَمَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا (28)

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat benar-benar menamai para malaikat dengan nama-nama perempuan. Tiada sedikit pun ilmu mereka akan hal itu. Tidaklah mereka mengikuti kecuali hanya dugaan saja dan sungguh dugaan tidak memadai sebagai (dasar) kebenaran sedikit pun.” (QS. An-Najm: 27-28)

Bagi muslim yang tetap bersikeras bahwa Nabi Isa benar-benar lahir pada saat natal, hendaknya persiapkan jawaban yang tepat di hadapan Allah nantinya. Karena Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu dengannya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati seluruhnya akan diminta pertanggung jawaban dari hal itu.” (QS. Al-Isra: 36)

Atau setidaknya mereka yang meyakini hal tersebut memiliki hujjah (argumentasi) dari wahyu Allah, karena Allah menantang hal tersebut dari siapa saja yang memperdebatkan tentang-Nya. Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ

“Dan di antara manusia ada yang saling berbantah tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab yang mencerahkan.” (QS. Al-Hajj: 8)

Tanyakan kepada para pemeluk agama bersangkutan yang merayakan natal tersebut, adakah petunjuk atau ayat dalam kitab mereka yang menyatakan secara jelas bahwa Isa Al-Masih lahir pada tanggal 25 desember yang biasa mereka sebut dengan natal?

Kedua, perayaan natal dibangun atas keyakinan kufur bahwa Isa adalah Allah atau salah satu dari oknum ketuhanan bagi penganut yang merayakannya. Kalau bukan karena keyakinan itu, natal tidak ada maknanya sama sekali bagi mereka. Karena itu sungguh tidak logis jika ada yang berpendapat “boleh mengucapkan selamat natal selama meyakini bahwa Isa hanyalah seorang nabi.” Itu sungguh paradoks. Sebab ucapan selamat natal itu diberikan kepada kaum Nasrani yang merayakannya dengan keyakinan yang bertentangan dan diingkari oleh akidah Islam. Artinya tatkala seorang muslim mengatakan selamat natal, artinya “selamat atas kelahiran Tuhan”. Inilah yang ada dibenak kaum Nasrani ketika ada yang mengucapkan selamat natal kepada mereka, terlepas apakah ucapan selamat itu berasal dari kaum Nasrani atau non Nasrani. Sebab, ucapan “selamat” itu bermakna apresiasi, restu, suka cita, kegembiraan, dan pengakuan atas eksistensi natal itu sendiri dan berbagai hal yang melatarbelakangi perayaannya. Bahkan termasuk memuliakannya.

Ini sama dengan kita mengucapkan kepada koruptor, “selamat atas korupsi kalian!” Sama saja, apakah ucapan itu diucapkan dengan restu atau tidak merestui korupsi tersebut, intinya para koruptor merasa ucapan “selamat” itu merupakan dukungan dan legitimasi atas korupsi yang mereka lakukan atas negeri ini. Inilah yang membuat ucapan “selamat” itu amat berarti dalam momen-momen khusus seperti pernikahan, kelahiran, kelulusan, kerjasama, dan lain sebagainya, terlepas apakah si pengucap suka atau tidak suka atau berkeyakinan lain. Karena yang dianggap itu adalah ucapan lisan, bukan keyakinan hati. Para penganut yang merayakan natal itu tidak peduli bagaimana keyakinan umat Islam terkait Nabi Isa, mereka hanya peduli akidah dan perayaan mereka diterima oleh umat Islam, bahkan didukung meski hanya dengan ucapan “selamat.” Oleh sebab itu, umat Islam perlu merenungkan ketiga ayat ini sebelum mengucapkan natal kepada umat Nasrani jika hanya untuk menyenangkan dan membahagiakan mereka.

Ayat pertama,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tiada sesembahan kecuali hanya sesembahan yang esa...” (QS. Al-Maidah: 73)

Ayat kedua,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itulah Al-Masih putra Maryam....” (QS. Al-Maidah: 17)

Ayat ketiga,

تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93)

“Hampir saja langit-langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh ambruk. Akibat tuduhan mereka bahwa Ar-Rahman memiliki anak. Tidak selayaknya bagi Ar-Rahman untuk mengambil seorang anak. Tidaklah seluruh yang ada di langit dan bumi melainkan datang kepada Ar-Rahman sebagai seorang hamba.” (QS. Maryam: 90-93)

Lihatlah bagaimana murkanya Allah atas akidah yang menuduh bahwa Dia memiliki seorang putra. Hingga langit dan bumi pun hampir pecah karenanya. Allah dengan tegas mengkafirkan siapa saja yang menyamakan antara Dia dengan Al-Masih Isa putra Maryam dan meyakini penitisan-Nya pada diri Isa. Natal dan seluruh perayaannya dibangun atas seluruh akidah ini oleh orang-orang yang merayakannya. Masihkah orang yang merayakannya pantas diberi ucapan “selamat”?! Atau kita mengucapkan “selamat” atas hal-hal yang membuat Allah murka? Selamat atas keyakinan bahwa Isa adalah putra Allah, sosok titisan-Nya, atau salah satu dari tiga oknum ketuhanan bersama-Nya?!

Ketiga, pada dasarnya ayat tersebut bukan hanya berlaku untuk Nabi Isa. Al-Quran juga menyebut redaksi ayat yang serupa untuk Nabi Yahya. Allah berfirman mengenai Nabi Yahya:

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Dan keselamatan atasnya (Yahya) di hari ia dilahirkan, di hari ia mati, dan di hari ia dibangkitkan dalam keadaan hidup (di hari kiamat nanti).” (QS. Maryam: 15)

Dalam ayat ini, Allah menyampaikan “keselamatan” untuk Nabi Yahya, apakah itu juga berarti Allah mengucapkan selamat atas kelahiran dan kematian Nabi Yahya? Apakah ini berarti dalil bahwa kita juga harus merayakan hari lahir dan hari matinya Nabi Yahya? Jika demikian, kita bukan hanya dituntut merayakan hari lahir 2 nabi, tetapi juga merayakan hari matinya 2 nabi?! Adakah muslim yang mau merayakan hari matinya 2 nabi Allah? Siapa yang tahu kapankah Nabi Yahya dilahirkan dan wafat? Demikianlah jika “ahli tafsir” yang menyimpang berani menafsirkan ayat berdasarkan hawa nafsunya.

Keempat, Selain natal yang diklaim sebagai hari lahir Nabi Isa, kaum Nasrani juga memperingati wafatnya Nabi Isa. Peringatan tersebut tentunya dibangun atas keyakinan mereka bahwa Nabi Isa wafat untuk menebus dosa-dosa manusia yang percaya kepadanya. Sehingga kematian Nabi Isa bagi mereka tidak lagi murni sebagai duka cita, tetapi sudah menjadi sebuah kemestian yang harus dilaluinya karena takdirnya sebagai anak Tuhan. Peringatan itu didahului dengan perayaan paskah hingga jumat agung. Anehnya, mengapa “ahli tafsir” yang mengatakan mengucapkan selama natal ada dalilnya dalam Al-Quran tersebut tidak berfatwa atas bolehnya mengucapkan “selamat paskah” dan “selamat atas wafatnya Isa Al-Masih?!" Bukankah itu mestinya sudah menjadi tuntutan dari ayat yang ia paksakan menjadi dalil? Beginilah jika seseorang yang merasa sudah layak menafsirkan Al-Quran dengan akalnya, tetapi jauh dari tuntunan para ulama. Akhirnya pendalilan dan penafsirannya sesat dan menyesatkan. Mereka bukan menyeru umat kepada akidah yang benar, akidah yang telah digariskan oleh para ulama. Justru mereka menjadi dai-dai yang menyeru ke pintu Jahannam. Dengan memoles kemungkaran menjadi kebaikan yang dipelintir menggunakan ayat-ayat Al-Quran, lalu ditafsirkan menurut syahwatnya. Persis seperti kaum munafik yang telah diwanti-wanti oleh Umar bin Al-Khatthab sebelumnya.

Alangkah bagusnya senandung Abdullah bin Al-Mubarak:

وَهَلْ بَدَّلَ الدِّينَ إِلَّا الْمُلُوكُ ... وَأَحْبَارُ سُوءٍ وَرُهْبَانُهَا

“Betapa yang telah merubah agama ini adalah para penguasa”

            “Dan para ulama jahat serta ahli ibadahnya”[2]

Wallahu a’lam bish shawab



[1] Mayoritas umat Islam meyakini Nabi Isa belum mati hingga sekarang, sebagaimana aqidah yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.

[2] Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’u Bayanil Ilmi wa Fadhlihi I/637

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar