Sebagian orang dungu ada yang berkeyakinan bahwa Allah tidak perlu dibela. Alasannya karena Allah (Tuhan) Maha Kuat dan Maha Kuasa, sehingga perlu dibela. Logika seperti ini amat mudah dipatahkan. Karena memang pernyataan seperti ini adalah pernyataan cacat nalar yang dilogis-logiskan. Pernyataan orang-orang yang tidak suka kepada Allah dan agama-Nya. Jika mau berlogika mangkrak seperti itu, maka kita tanyakan kepada mereka, “Mengapa kamu bersyukur (berterima kasih) kepada Allah (Tuhan)? Bukankah Allah Maha Kaya dan Maha Dermawan? Dia tidak butuh rasa syukurmu dan tidak perlu terima kasihmu?”, “Mengapa kamu menyembah Tuhan, bukankah Tuhan Maha Perkasa dan Maha Kuasa? Dia tidak butuh penyembahanmu dan tidak perlu disembah?!”, “Mengapa kamu berbuat baik kepada sesama, bukankah Tuhan Maha Baik dan Mampu Mengurus manusia tanpa bantuanmu, Dia tidak butuh perbuatan baikmu?!” dan seterusnya. Ini semua adalah sebuah kerusakan logika berfikir jika mau mengikuti cara berfikir seperti itu. Sebuah logika pemikiran yang cacat.
Ketika seorang hamba membela dan menolong Allah Tuhannya, bukan berarti Allah tidak Maha Kuat dan Maha Kuasa. Sama sepertimu ketika mau menolong dan membela negara, bukan berarti negaramu lemah, rapuh, dan tidak kuat. Namun pembelaan itu dilakukan sebagai bentuk dan konsekwensi kesetiaan dan loyalitas kepada negara. Sebab tidak mungkin seorang pecinta rela Zat yang ia cintai dihina meski hakikatnya Zat yang ia cintai itu tidak memerlukannya, sama sepertimu yang mati-matian membela sebuah rezim kekuasaan sebagai bentuk loyalitasmu terhadap kekuasaan tersebut, walaupun hakikatnya kekuasaan itu tidak membutuhkan pembelaanmu. Hanya saja kalau pembelaan terhadap kekuasaan itu motifnya berbeda-beda. Ada yang membela kekuasaan karena urusan perut, karena jabatan dan kekuasaan, karena kepentingan politik dan uang, dan alasan-alasan lainnya. Adapun orang-orang yang membela Allah umumnya motifnya adalah keikhlasan dan loyalitas murni yang dibangun atas dasar kecintaan, karena ia tahu urusan dunianya kemungkinan akan lenyap jika ia membela Tuhannya dan hanya bisa menggantungkan harapan dan keyakinannya kepada Tuhannya atau Allah-nya saja selaku Zat yang dia bela dan dia cintai.
Karena itulah seorang muslim bukan hanya dibolehkan untuk membela Allah, tetapi juga dituntut untuk melakukan pembelaan tersebut. Berbeda dengan kaum munafik yang justru menjual “Tuhannya” untuk kepentingan dunianya. Bahkan ada yang tidak malu menjual agama orang lain demi kepentingan dunianya. Setidaknya ada 3 alasan yang menjadikan setiap muslim harus membela Tuhannya. Ketiga hal ini, Allah sebutkan dalam Al-Quran.
1. Perintah Allah Kepada Para Hamba-Nya
Membela Allah bukan hanya sekedar anjuran, tetapi juga perintah yang mengarah kepada kewajiban. Bukan hanya berlaku kepada umat Nabi Muhammad, tetapi juga umat sebelumnya. Menyanggupi perintah tersebut merupakan teladan dari orang-orang shaleh terdahulu. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada kaum Hawari, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah?” Kaum Hawari berkata, “Kamilah penolong-penolong Allah,” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan kepada orang-orang beriman atas musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang. " (QS. Shaff: 14)
Imam Qatadah bin Di’amah (tabi’in murid shahabat Anas bin Malik) mengatakan tatkala menafsirkan ayat ini,
قَدْ كَانَتْ لِلَّهِ أَنْصَارٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ تُجَاهِدُ عَلَى كِتَابِهِ وَحَقِّهِ
“Sungguh Allah memiliki para penolong (pembela) dari kalangan umat ini yang berjihad untuk membela kitab-Nya dan hak-Nya.” (AR. Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan XXIII/365)
Imam Abul Laits As-Samarqandi Al-Hanafi mengatakan,
وَمَعْنَاهُ انْصُرُوا اللهَ، وَانْصُرُوا دِينَ اللهِ ، وَانْصُرُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَمَا نَصَرَ الْحَوَارِيُّونَ عِيسىَ ابْنَ مَرْيَمَ
“Maknanya adalah (wahai orang-orang beriman) tolonglah Allah dan tolonglah agama kalian serta tolonglah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana kaum Hawariyyun telah menolong Isa putra Maryam.” (Bahrul Ulum III/445)
Imam Ibnu Jizzy Al-Maliki mengatakan,
وَالْمَعْنَى كُوْنُوا أَنْصَارَ اللهِ كَمَا قَالَ الْحَوَارِيُّونَ حِينَ قَالَ لَهُمْ عِيسَى مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللهِ
“Maknanya, jadilah kalian penolong-penolong Allah sebagaimana jawaban kaum Hawariyyun ketika Isa berkata kepada mereka, “Siapa yang mau menolongku untuk Allah.” (At-Tashil li Ulumit Tanzil II/372)
Imam Al-Baghawi Asy-Syafii mengatakan,
أَيِ انْصُرُوا دِينَ اللَّهِ مِثْلَ نُصْرَةِ الْحَوَارِيِّينَ لَمَّا قَالَ لَهُمْ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مَنْ أَنْصارِي إِلَى اللَّهِ
“Tolonglah agama Allah seperti kaum Hawariyyun memberi pertolongan ketika ‘Isa ‘alaihis salam berkata, “siapa yang mau menolongku untuk Allah!” (Ma’alimut Tanzil V/81)
Al-Allamah Ibnu Adil Al-Hanbali mengatakan,
كُونُوا حَوَارِيِّي نَبِيِّكُمْ لِيُظْهِرَكُمُ اللهُ عَلَى مَنْ خَالَفَكُمْ كَمَا أَظْهَرَ حَوَارِيُّو عِيسَى عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ
“(Maknanya), jadilah kalian para pembela nabi kalian agar Allah memenangkan kalian atas orang-orang yang menyelisihi kalian sebagaimana Allah memenangkan para pembela Isa atas orang-orang yang menyelisihi mereka.” (Al-Lubab fi Ulumil Kitab XIX/64)
Ayat ini berikut tafsiran para ulama Islam dari berbagai madzhab yang menjelaskan maknanya mengandung penegasan berupa tuntutan untuk menolong Allah. Yakni menolong agama Allah dan Rasulullah. Tentu bukan menolong Zat-Nya, karena Zat-Nya tidak membutuhkan pertolongan. Tetapi agama-Nya dan ajaran Nabi-Nya serta umat Rasul-Nya. Ini jelas merupakan perintah yang sifatnya wajib bagi setiap mukmin untuk menolong Islam tatkala agama ini direndahkah dan dihinakan. Juga menjelaskan bahwa menolong agama Allah merupakan tuntunan dari orang-orang shaleh terdahulu, yakni murid-murid setia Nabi Isa yang beriman kepada Allah dan Nabi Isa demi melakukan pembelaan terhadap Nabi Isa dan ajaran yang beliau bawa dari Allah. Bukan ajaran yang difahami oleh kaum Nasrani pastinya.
2. Agar Mendapatkan Pertolongan Allah
Perlunya seorang mukmin membela Allah dan agama-Nya, bukan karena Allah yang membutuhkan pembelaan dan pertolongan itu. Namun agar ia diberi pertolongan oleh Allah. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
“Wahai orang-orang beriman, jika kalian menolong Allah, Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” (QS. Muhammad: 7)
Imam Qatadah bin Di’amah mengatakan,
قَوْلُهُ إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ لِأَنَّهُ حَقُّ عَلَى اللهِ أَنْ يُعْطِيَ مَنْ سَأَلَهُ وَيَنْصُرَ مَنْ نَصَرَهُ
“Firman Allah, “jika kalian menolong Allah”, karena sudah semestinya atas Allah memberikan hamba yang meminta kepada-Nya dan menolong siapa saja yang menolong-Nya.” (AR. Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan XXII/161)
Imam An-Nuhhas An-Nahwi mengatakan,
الْمَعْنَى إِنْ تَنْصُرُوا دِينَ اللهِ وَأَوْلِيَاءَهُ فَجَعَلَ ذَلِكَ نُصْرَةً لَهُ مَجَازًا يَنْصُرْكُمْ فِي الْآخِرَةِ أَيْ يَدْفَعُ الشَّدَائِدَ عَنْكُمْ
“Maknanya, jika kalian menolong agama Allah dan wali-wali-Nya, Allah menjadikan “pertolongan kepada-Nya” sebagai majaz (makna konotasi), agar Allah menolong kalian di akhirat, yakni Allah menghalangi berbagai kengerian (di hari kiamat nanti) dari kalian.” (I’rabul Quran IV/119)
Al-Allamah Az-Zamakhsyari mengatakan,
إِنْ تَنْصُرُوا دِينَ اللَّهِ وَرَسُوْلَهُ يَنْصُرْكُمْ عَلَى عَدُوِّكُمْ وَيَفْتَحْ لَكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدامَكُمْ فِي مَوَاطِنَ الْحَرْبِ أَوْ عَلَى مَحَجَّةِ الْإِسْلَامِ
“(Tafsirnya), jika kalian menolong agama Allah dan Rasul-Nya, Allah akan menolong kalian mengatasi musuh kalian dan memberi kemenangan kepada kalian dan meneguhkan kaki-kaki kalian di medan pertempuran atau di atas pendirian Islam.” (Al-Kasysyaf IV/318)
Imam Ibnu Katsir menambahkan,
فَإِنَّ الْجَزَاءَ مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ؛ وَلِهَذَا قَالَ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ:"مَنْ بَلَّغ ذَا سُلْطَانٍ حَاجَةَ مَنْ لَا يَسْتَطِيعُ إِبْلَاغَهَا، ثَبَّتَ اللَّهُ قَدَمَهُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sebab balasan itu sesuai jenis amal itu sendiri. Karena itulah Allah berfirman, “dan meneguhkan kaki-kaki kalian.” Tafsiran (meneguhkan kaki-kaki kalian) sama seperti kandungan hadits, “Barang siapa yang menyampaikan kepada penguasa sebuah kebutuhan orang yang tidak sanggup menyampaikannya, Allah akan menguatkan kakinya di atas shirath (jembatan) di hari kiamat nanti.” (Tafsirul Quranil Adzhim VII/310)
Ini menunjukkan bahwa menolong Allah akan mengundang pertolongan Allah itu sendiri kepada para hamba. Di antara pertolongan-Nya bagi para hamba adalah kemenangan tatkala berhadapan dengan musuh-musuh Allah di dunia dan keistiqamahan di dalam agama-Nya, serta keteguhan kaki tatkala mengarungi jembatan (shirath) di hari kiamat kelak hingga berhasil masuk ke surga-Nya. Janji pertolongan itu Allah tegaskan kembali dalam ayat lain,
وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ
“... dan Allah pasti akan menolong siapa saja yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 40).
Maka adalah hal yang wajar jika umat Islam yang lurus imannya berlomba-lomba menolong Allah. Dengan cara menolong agama dan ajaran-Nya. Ini menunjukkan bahwa umat Islam tersebut faham terhadap ajaran agamanya dan kandungan kitab sucinya sendiri.
3. Pujian Allah Kepada Orang-Orang Yang Menolong-Nya
Allah juga memuji orang-orang yang menolong-Nya. Allah menjadikan pujian itu sebagai teladan bagi umat Islam, di mana Allah menjadikannya sebagai ciri khas kaum Muhajirin di masa Nabi. Allah berfirman:
لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“(Harta fai[1] tersebut) bagi kaum fakir dari kalangan Muhajirin yang diusir dari negeri-negeri mereka dan harta-harta mereka, karena mereka mencari karunia Allah dan keridaan-Nya serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Merekalah orang-orang yang jujur (dalam keimanan).” (QS. Al-Hasyr: 8)
Siapakah kaum Muhajirin? Mereka adalah kalangan shahabat Nabi yang pertama kali menyambut dakwah Rasulullah dan mengorbankan harta serta jiwa mereka demi Islam. Mereka adalah orang-orang yang Allah janjikan masuk ke surga-Nya ketika mereka masih hidup. Ini membuktikan bahwa menolong Allah adalah jalannya para shahabat dan sunnah yang telah ditetapkan atas umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan orang-orang yang awal-awal masuk Islam dari kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Allah telah meridhai mereka dan mereka telah ridha kepada-Nya. Dan Allah telah menjanjikan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)
Ketika Allah menyifati kaum Muhajirin sebagai orang-orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya, ini menunjukkan bahwa generasi umat Islam setelah mereka harus menempuh jalan mereka dan berkarakter sebagaimana karakter mereka, yakni menolong Allah dan Rasul-Nya, agar umat Islam mendapatkan keridaan Allah sebagaimana yang telah mereka capai dan memperoleh surga sebagaimana yang dijanjikan Allah untuk mereka dan siapa saja yang mengikuti mereka.
Kesimpulan, dari penjelasan ini semuanya jelaslah bahwa menolong Allah, Rasul-Nya, dan agama-Nya adalah tuntutan sekaligus tuntunan dalam Islam. Termasuk keutamaan dan sifat-sifat yang harus ada pada setiap muslim. Sebab Allah telah mensifati 2 generasi terbaik dari kalangan hamba-Nya yang shaleh sebagai para penolong-Nya dan Rasul-Nya, yakni kaum Hawari shahabat-shahabat Nabi Isa dan kaum Muhajirin shahabat-shahabat Nabi Muhammad. Maka masih pantaskah seorang mukmin menolak untuk menolong Allah dan ragu dalam membela-Nya? Tidak ada muslim yang keberatan menolong dan membela Allah melainkan munafik yang jelas kemunafikannya atau orang dungu yang tersesat dalam kebodohannya. Masih layakkah seorang umat Muhammad mengatakan, “Allah tidak perlu dibela” padahal kitab sucinya dengan terang seterang matahari di siang bolong menuntutnya untuk membela Allah dan Rasul-Nya?!
Adapun orang kafir yang menganggap bahwa Tuhannya tidak perlu dibela, maka seharusnya orang seperti ini tidak perlu marah kalau rumah ibadahnya dihancurkan oleh gerombolan teroris yang tidak jelas asal usulnya. Bukankah Tuhan yang Dia sembah luar biasa? Tentu dia tidak butuh aparat keamanan pemerintah untuk menjaga rumah ibadah mereka ketika mereka melakukan perayaan di hari raya mereka. Bukankah Tuhannya tidak perlu dibela karena Maha Segalanya? Seharusnya Tuhannya bisa menjaga rumah ibadah agamanya dan pengikut setia ajarannya dari serangan teror bom. Bukankah Tuhannya tidak perlu dibela karena luar biasa dan menjadi pembelanya? Seharusnya Dia menyalahkan Tuhannya ketika rumah ibadah Tuhannya dihancurkan oleh para pengacau yang datang dari dunia antah berantah. Betapa banyaknya manusia yang akalnya tidak melampaui tinggi lututnya di zaman ini. Wallahu a’lam bis shawab.
[1] Harta dari daerah musuh yang didapatkan tanpa adanya pertempuran, karena musuh meninggalkan harta tersebut demi lari menghindari perang karena takut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar