Banyak orang tua yang mengeluhkan anak-anaknya susah disuruh melaksanakan shalat. Mereka mengeluhkan bahwa anak-anak mereka masih malas, masih harus disuruh, bahkan ada yang harus dimarahi dulu. Keluhan-keluhan seperti ini sering didapati dari para ibu, karena memang watak wanita yang suka mengeluh. Seakan-akan mereka lupa bahwa kesadaran melaksanakan shalat itu akan datang hanya dengan mengeluh. Seolah-olah mereka lupa bahwa anak-anak itu akan sadar dengan sendirinya jika banyak disuruh.
Andai mau direnungkan sedikit saja, tentunya diiringi dengan tadabbur terhadap Al-Quran, kita akan menemukan bahwa shalat itu memang sulit dilaksanakan. Jangankan anak-anak, bahkan orang dewasa saja yang seharusnya punya akal lebih bijak masih banyak yang melalaikan dan meninggalkan shalat. Karena itulah Allah memerintahkan para hamba-Nya agar sabar melaksanakan shalat. Kalau tidak sulit, Allah tidak akan memerintahkan mereka untuk bersabar. Allah berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ
“Perintahkankanlah keluargamu agar (mendirikan) shalat dan bersabarlah dalam melaksanakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberimu rizki....” (QS. Thaha: 132)
Imam Ath-Thabari menafsirkan, “Dan bersabarlah dalam mendirikan shalat dan menjalankannya sesuai dengan ketentuannya.”[1] Ibnu Katsir menafsirkan, “Selamatkan keluargamu dari azab neraka dengan cara mendirikan shalat dan sabarlah engkau dalam melaksanakannya, sebagaimana firman Allah: “Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka....”[2] Abul Laits As-Samarqandi menafsirkan, “Perintahkanlah kaummu, keluargamu, dan penghuni rumahmu untuk shalat dan bersabarlah dalam melaksanakannya atas seluruh kesulitan yang menimpamu dalam mendirikannya.”[3]
Di samping ayat ini mengisyaratkan perlunya bersabar dalam melaksanakan shalat dan perintah agar menyuruh keluarga melaksanakan shalat, juga terdapat sindiran keras bagi orang yang gemar meninggalkan shalat atas dasar bekerja, berdagang di pasar, atau mencari rizki. Setelah mengetahui hal ini, maka berhentilah mengeluhkan kondisi anak-anak kita yang masih sulit atau merasa berat diperintah shalat. Tetap perintahkan mereka dengan lembut, bijak, tanpa menghilangkan sikap tegas dalam hal ini dan bersabarlah. Karena memang melaksanakan shalat itu sulit. Jika melaksanakan shalat saja terasa sulit, apatah lagi menyuruh orang melaksanakannya. Namun dari kesulitan itulah muncul pahala dan keutamaan itu. Semakin sulit seseorang dalam memerintahkan pada kebaikan atau mencegah dari kemungkaran, maka semakin besar ganjaran yang akan didapatkannya dari Allah. Inilah mengapa para rasul menjadi manusia terbaik di hadapan Allah, karena tantangan mereka dalam menjalankan perintah Allah lebih sulit dan lebih berat daripada manusia-manusia lainnya.
Pernahkah kita berfikir, saking beratnya melaksanakan shalat dan sulitnya memiliki keluarga yang selalu menjaga shalat sampai-sampai Nabi Ibrahim, kekasih Allah berdoa secara khusus dalam perkara shalat. Nabi Ibrahim berdoa:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
“Ya Rabb, jadikanlah aku orang yang selalu mendirikan shalat, demikian juga keturunanku. Wahai Rabb kami, terimalah doa (kami).” (QS. Ibrahim: 40).
Pertanyaannya, pernahkah kita berdoa secara khusus kepada Allah agar Allah menjadikan keluarga kita dan anak keturunan kita sebagai orang yang konsisten mendirikan shalat? Apakah kita selalu merutinkan doa tersebut atau minimal mengamalkan doa Nabi Ibrahim di atas dan merutinkannya? Jika belum, maka jangan salahkan siapa pun kecuali diri kita sendiri!
Jika Nabi Ibrahim saja, kekasih Allah yang Allah abadikan namanya dalam Al-Quran dan Allah perintahkan para hamba-Nya agar mengikuti dan meneladani beliau ternyata masih butuh berdoa agar beliau dan keturunan beliau dijadikan sebagai orang yang terus mendirikan shalat, maka bagaimana dengan kita? Siapa kita dibandingkan Nabi Ibrahim yang bahkan namanya kita sebut di setiap tasyahud shalat kita? Tak perlu banyak mengeluh dan berkeluh kesah apabila anak-anak kita masih disuruh dalam melaksanakan shalat atau masih berat dalam melaksanakannya. Tetap perintahkan dengan lembut dan bijak, berikan sanksi jika ia menolak, bersabarlah dalam memerintahkannya, dan rutinkan doa Nabi Ibrahim di atas dalam shalat kita dan di saat-saat doa mustajab di dalamnya, seperti di sepertiga malam, antara azan dan iqamat, ketika hujan, waktu sahur, ketika puasa dan safar, dan waktu-waktu lainnya. Sebab kesadaran dan kemandirian dalam mendirikan shalat semata hidayah dan taufik dari Allah. Maka hanya Allah satu-satu Dzat yang mampu menjadikan anak keturunan kita istiqamah dalam melaksanakan shalat. Bukan kita, bukan ucapan kita, dan bukan siapa pun selain-Nya. Kita hanya diperintahkan mencari sebab agar hidayah itu turun dengan cara menyuruh mereka, memaksa mereka, dan menasehati mereka dengan cara yang baik, sembari tidak putus asa dalam mendoakan mereka. Adapun hati dan kesadaran, itu adalah wewenang mutlak Allah. Amalkan sunnah Rasulullah dalam menyikapi anak-anak yang tidak shalat, yaitu:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا، وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ
“Perintahkanlah anak-anak kalian agar shalat ketika mereka berusia 7 dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika usia mereka 10 tahun...” (HR. Abu Dawud: 495 dan Tirmidzi: 407 dari Abdullah bin Amru).
Jika kita belum melaksanakan hadits ini, maka jangan cela kecuali diri kita sendiri. Jika kita belum memerintahkan anak-anak kita untuk shalat di usia 7 tahun –karena merasa anak belum layak diperintah di usia tersebut- dan tidak mau mulai memberi sanksi berupa pukulan (untuk mendidik) yang dimulai sejak usia mereka 10 tahun apabila mereka meninggalkan shalat –karena kasihan kepada anak atau memanjakannya-, maka jangan mengeluh jika anak tersebut berat dan malas disuruh shalat ketika usianya sudah remaja. Apatah lagi jika ia punya ayah atau ibu atau salah satu dari orang tuanya yang tidak bisa dijadikan teladan dalam hal menjalankan shalat, maka hanya hidayah dan taufik dari Allah yang dapat menjadikannya istiqamah dalam mendirikan dan menjaga shalatnya.
Adakalanya pengabaian terhadap sunnah Rasulullah di atas yang membuat anak tersebut tidak memiliki kemandirian dalam mendirikan shalat. Ditambah dengan tidak adanya kepasrahan dan doa khusus kepada Allah agar anak-anak tersebut diberi hidayah untuk mandiri dalam mendirikan shalat. Maka bagaimana Allah mau menunjuki anak-anak tersebut?! Apatah lagi jika orang tua tersebut suka mengeluh dan merasa bahwa hanya dengan suruhan dan memerintahkan baru anak-anaknya mau shalat, tanpa mau ridha dan bersabar, dan tanpa mau melibatkan Allah dengan rutin berdoa kepada-Nya secara khusus dalam perkara shalat untuk anak-anaknya, sebagaimana yang diteladankan oleh Khalilullah Ibrahim, imam panutan para hamba, sekaligus ayah bagi umat Rasul-Nya. Wallahu a’lam bis shawab
[1] Tafsir At-Thabari (Jami’ul Bayan) jilid 18 hal. 405
[2] Tafsir Ibnu Katsir jilid 5 hal. 327
[3] Bahrul Ulum jilid 2 hal. 418
Tidak ada komentar:
Posting Komentar