Iblis Dahulunya Bukan Malaikat!

 Sebagian orang ada yang beranggapan bahwa Iblis dahulunya Malaikat. Lalu Iblis dikutuk karena tidak mau bersujud kepada Adam. Ini merupakan anggapan dan keyakinan yang keliru. Bahkan ada yang menggunakan anggapan ini untuk mengolok-olok para ustadz dan ulama serta orang-orang yang berusaha istiqamah di ajaran Islam. Seakan-akan percuma beramal shaleh, karena Iblis dahulunya juga Malaikat yang terkenal akan keshalehannya ternyata juga bisa dikutuk. Padahal anggapan ini adalah anggapan keliru yang perlu diluruskan. Berikut adalah dalil dan istidlal (pendalilan) atas kekeliruan anggapan tersebut.

1. Al-Quran Secara Tegas Menyebut Iblis Berasal Dari Kalangan Jin

Firman Allah,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

“Dan telah Kami firmankan kepada para malaikat, “Bersujudlah kalian kepada Adam. Mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia berasal dari jin. Ia (Iblis) pun menentang perintah Rabb-nya....” (QS. Al-Kahfi: 50).

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri secara mu’allaq[1],

قاتل الله أقواما يزعمون إِنَّ إبليس كَانَ مِنْ ملائكة الله، والله تَعَالَى يَقُولُ: كَانَ مِنَ الجِنّ

“Semoga Allah membinasakan sekelompok orang yang menganggap bahwa Iblis berasal dari malaikat, sementara Allah Ta’ala telah berfirman, “Ia (Iblis) berasal dari jin.” (AR. Tafsir Ibnu Abi Hatim: 12843)

2. Perbedaan Asal Penciptaan Malaikat dan Iblis

Al-Quran menyebut bahwa Iblis berasal dari api menurut pengakuan Iblis sendiri:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ

“Allah berfirman, “Apa yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik darinya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12).

Al-Quran juga menyebut bahwa penciptaan jin juga dari api,

وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ

“Dan jin telah Kami ciptakan sebelumnya dari api yang panas.” (QS. Al-Hijr: 27)

Sedangkan Malaikat, Rasulullah menyebut bahwa Malaikat tercipta dari cahaya.

خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ

 “Para malaikat diciptakan dari cahaya dan jin diciptakan dari nyala api.” (HR. Muslim: 2996 dari Aisyah)

3. Al-Quran Menyebut Malaikat Tidak Akan Menyombongkan Diri dan Menentang. Berbeda Dengan Iblis

Allah berfirman tentang malaikat,

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (49) يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (50)

“Dan hanya kepada Allah bersujud apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi, baik dari hewan melata dan para malaikat, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut Rabb mereka dari atas mereka dan senantiasa melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 49)

Sedangkan Iblis, justru menentang dan menyombongkan diri sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa ayat Al-Quran. Allah berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan ketika Kami firmankan kepada para malaikat, “Bersujudlah kalian kepada Adam!” Mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia (Iblis) enggan dan menyombongkan diri dan ia berasal dari kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34)

4. Iblis Memiliki Keturunan. Berbeda Dengan Malaikat

Adanya keturunan pada Iblis dijelaskan langsung oleh Al-Quran.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ

“Dan telah Kami firmankan kepada para malaikat, “Bersujudlah kalian kepada Adam. Mereka pun bersujud kecuali Iblis. Ia berasal dari jin. Ia (Iblis) pun menentang perintah Rabb-nya. Apakah kalian hendak menjadikannya dan keturunannya (Iblis) sebagai pelindung-pelindung selain-Ku, padahal dia (Iblis) adalah musuh bagi kalian ” (QS. Al-Kahfi: 50).

Adapun malaikat, Al-Quran menyebut mereka hanya hidup untuk beribadah,

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ عِنْدَهُ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلَا يَسْتَحْسِرُونَ (19) يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ (20)

“Hanya milik-Nya siapa saja yang ada di langit dan bumi dan siapa saja yang berada di sisi-Nya (para malaikat) tidak angkuh dalam beribadah kepada-Nya dan tidak pula mereka merasa letih. Mereka senantiasa bertasbih sepanjang malam dan siang, tanpa putus-putusnya).” (QS. Al-Anbiya: 19-20)

Ar-Razi mengatakan,

اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الْمَلَائِكَةَ لَا يَأْكُلُونَ وَلَا يَشْرَبُونَ وَلَا يَنْكِحُونَ، يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ، وَأَمَّا الْجِنُّ وَالشَّيَاطِينُ فَإِنَّهُمْ يَأْكُلُونَ وَيَشْرَبُونَ

“Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa para malaikat tidak makan dan tidak minum serta tidak menikah. Mereka hanya bertasbih sepanjang malan dan siang tanpa henti-hentinya. Sedangkan jin dan setan makan dan minum....” (Mafatihul Ghaib I/85)

Penafian bahwa Malaikat memiliki keturunan semakin kuat dengan adanya pengingkaran Al-Quran terhadap tuduhan kaum musyrik bahwa malaikat berjenis kelamin perempuan.

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

“Mereka menjadikan (beranggapan) para malaikat yang merupakan hamba-hamba Ar-Rahman berjenis kelamin perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan para malaikat tersebut. Akan dicatat persaksian mereka itu dan mereka akan ditanyai (mengenai hal itu).” (QS. Az-Zukhruf: 19).

Jika di kalangan Malaikat tidak ada jenis perempuan, maka bagaimana para Malaikat hendak memiliki anak dan keturunan? Berbeda dengan manusia dan jin yang Allah ciptakan berpasang-pasangan. Ada laki-laki dan ada perempuan.

5. Malaikat Pada Asalnya Tidak Wafat, Sedangkan Iblis Tidak Akan Mati Sampai Hari Kiamat Setelah Meminta Kepada Allah

Ketidak binasaan Malaikat hingga hari kiamat adalah sifat asli yang terdapat pada malaikat. Bukan karena hasil permintaan mereka kepada Allah. Ini disebutkan langsung oleh Al-Quran,

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَا يَبْلَى

 “Setan pun menggodanya (Adam). Ia berkata, “Apakah engkau mau aku tunjukkan pohon kekekalan dan (agar menjadi) malaikat yang tidak akan binasa.” (QS. Thaha: 120)

Sedangkan Iblis diberi umur panjang hingga kiamat setelah ia berdoa kepada Allah dan dikabulkan. Allah berfirman,

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (77) وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَى يَوْمِ الدِّينِ (78) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (79) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (80)

“Dia (Allah) berfirman, “Keluarlah engkau dari surga, karena sungguh engkau terkutuk. Dan laknat-Ku berlaku atasmu hingga hari kiamat.” Dia (Iblis) berkata, “Wahai Rabb, berilah aku tenggat waktu hingga hari mereka (para makhluk) dibangkitkan.” Allah berfirman, “Engkau termasuk dari orang-orang yang diberi tenggat waktu.” (QS. Shad: 80).

Ini menunjukkan pada asalnya Iblis bukanlah makhluk yang kekal. Ketika Iblis dilaknat, ia pun minta kepada Allah agar diperbolehkan hidup sampai hari kiamat. Allah pun mengabulkan doanya tersebut, sehingga Iblis kekal hingga hari kiamat bersamaan dengan laknat yang ada dalam dirinya.

6. Iblis Makan, Sedangkan Malaikat Tidak

Nama lain Iblis adalah setan. Apabila disebut setan, maka pada dasarnya ditujukan kepada Iblis dan para pengikutnya. Rasulullah bersabda,

إِذَا قَرَأَ ابْنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطَانُ يَبْكِي، يَقُولُ: يَا وَيْلَهُ أُمِرَ ابْنُ آدَمَ بِالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الْجَنَّةُ، وَأُمِرْتُ بِالسُّجُودِ فَأَبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ

“Apabila anak (cucu) Adam membaca ayat sajadah (tilawah) lalu ia sujud, setan akan menyingkir dalam keadaan menangis sembari berkata, “Aduhai celakanya, anak cucu Adam disuruh bersujud, ia pun sujud maka baginya surga, sedangkan aku disuruh bersujud lalu aku menolak, maka bagiku neraka.” (HR. Muslim: 81 dari Abu Hurairah)

Adapun dalil bahwa Iblis makan dan minum adalah sabda Nabi,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

“Apabila salah seorang kalian makan, maka hendaklah ia makan dengan tangan kanannya dan jika ia minum, maka minumlah dengan tangan kanannya. Sebab, setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim: 2020 dari Abdullah bin Umar).

Sedangkan malaikat tidak makan dan minum sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran,

وَلَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (69) فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ

“Sungguh telah datang utusan-utusan Kami (para malaikat) kepada Ibrahim dengan kabar gembira. Mereka berkata, “Salam (untukmu).” Tidak lama kemudian, ia (Ibrahim) datang membawa daging sapi panggang. Tatkala Ibrahim melihat tangan mereka tidak menyentuhnya (makanan tersebut), Ibrahim merasa aneh kepada mereka dan merasa takut dari mereka. (Mereka berkata), “Sesungguhnya kami diutus untuk kaum Luth (membawa adzab).” (QS. Hud: 69-70)

Keyakinan atau anggapan bahwa Iblis dahulunya adalah Malaikat merupakan keyakinan yang muncul akibat pengaruh dari pemikiran sebagian Ahli Kitab, khususnya kaum Yahudi. Sebab mereka adalah golongan yang memiliki riwayat kebencian kepada para Malaikat sehingga membuat kedustaan dengan menyandingkan Iblis dengan Malaikat demi menjatuhkan kredibilitas dan kedudukan Malaikat. Kebencian mereka kepada Malaikat telah diabadikan dalam Al-Quran. Karena itu jualah mengapa iman kepada Malaikat menjadi salah satu rukun iman yang harus dianut oleh seorang mukmin, supaya tidak seperti kaum Yahudi. Allah berfirman mengenai kebencian kaum Yahudi terhadap Malaikat,

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (97) مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Jibril, maka sesungguhnya dia (Jibril) telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah, yang membenarkan kitab sebelumnya (Taurat) dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang beriman. Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Allah, para Malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi kaum kafir.” (QS. Al-Baqarah: 97-98)

Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari mengatakan ketika menjelaskan ayat tersebut,

أَجْمَعَ أَهْلُ الْعِلْمِ بِالتَّأْوِيلِ جَمِيعًا عَلَى أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ نَزَلَتْ جَوَابًا لِلْيَهُودِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، إِذْ زَعَمُوا أَنَّ جِبْرِيلَ عَدُوٌّ لَهُمْ، وَأَنْ مِيكَائِيلَ وَلِيٌّ لَهُمْ

“Para ulama takwil (tafsir) seluruhnya telah sepakat bahwa ayat ini turun sebagai jawaban kepada kaum Yahudi dari Bani Israil, tatkala mereka beranggapan bahwa Jibril adalah musuh mereka dan Mikail adalah teman mereka.” (Jami’ul Bayan II/377)

Ini berdasarkan hadits Rasulullah. Abdullah bin Abbas menceritakan,

قَالُوا "وَأَنْتَ الْآنَ فَحَدِّثْنَا مَنْ وَلِيُّكَ مِنَ المَلائِكَةِ؟ فَعِنْدَهَا نُجَامِعُكَ أَوْ نُفَارِقُكَ؟" قَالَ " فَإِنَّ وَلِيِّيَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ، وَلَمْ يَبْعَثِ اللهُ نَبِيًّا قَطُّ إِلا وَهُوَ وَلِيُّهُ " قَالُوا "فَعِنْدَهَا نُفَارِقُكَ، لَوْ كَانَ وَلِيُّكَ سِوَاهُ مِنَ المَلائِكَةِ لَتَابَعْنَاكَ وَصَدَّقْنَاكَ"، قَالَ " فَمَا يَمْنَعُكُمْ مِنْ أَنْ تُصَدِّقُوهُ؟ " قَالُوا "إِنَّهُ عَدُوُّنَا" فَعِنْدَ ذَلِكَ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ "قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللهِ"

“Kaum Yahudi bertanya, “Sekarang engkau. Ceritakan kepada kami siapa pendampingmu dari kalangan malaikat? Jawabanmu menjadi penentu kami mengikutimu atau menolakmu.” Rasulullah menjawab, “Sesungguhnya pendampingmu adalah Jibril ‘alaihis salam dan tidak ada seorang Nabi pun melainkan Jibril adalah pendampingnya.” Mereka menjawab, “Sekarang kami menolakmu. Andaikan yang mendampingimu selain dia (Jibril) dari kalangan Malaikat, kami pasti mengikutimu dan membenarkanmu.” Nabi bertanya, “Apa yang menghalangi kalian untuk membenarkannya (Jibril)?” Mereka menjawab, “Jibril adalah musuh kami.” Pada saat itu turunlah firman Allah ‘Azza Jalla, “Katakanlah (wahai Muhammad), “Barangsiapa yang menjadi musuh bagi Jibril, maka sesungguhnya dia (Jibril) telah menurunkannya (Al-Quran) ke dalam hatimu dengan izin Allah...” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad: 2514).

Ibnu Katsir berkata ketika mengomentari berbagai atsar yang menyebut bahwa Iblis berasal dari kalangan Malaikat,

وَقَدْ رُوي فِي هَذَا آثَارٌ كَثِيرَةٌ عَنِ السَّلَفِ، وَغَالِبُهَا مِنَ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ الَّتِي تُنْقَلُ لِيُنْظَرَ فِيهَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِحَالِ كَثِيرٍ مِنْهَا. وَمِنْهَا مَا قَدْ يُقْطَعُ بِكَذِبِهِ لِمُخَالَفَتِهِ لِلْحَقِّ الَّذِي بِأَيْدِينَا، وَفِي الْقُرْآنِ غُنْيَةٌ عَنْ كُلِّ مَا عَدَاهُ مِنَ الْأَخْبَارِ الْمُتَقَدِّمَةِ؛ لِأَنَّهَا لَا تَكَادُ تَخْلُو مِنْ تَبْدِيلٍ وَزِيَادَةٍ وَنُقْصَانٍ، وَقَدْ وُضِعَ فِيهَا أَشْيَاءٌ كَثِيرَةٌ

“Telah diriwayatkan banyak atsar dari para salaf mengenai hal ini (Iblis berasal dari kalangan Malaikat). Kebanyakannya berasal dari Israiliyat[2] yang dinukil guna dijadikan pertimbangan. Hanya Allah yang tahu status kebanyakan atsar tersebut. Sebagian atsar itu ada yang dipastikan kepalsuannya karena menyelisihi kebenaran wahyu yang ada pada kita, di mana Al-Quran sudah cukup dari berbagai riwayat-riwayat kuno tersebut. Sebab, hampir seluruh riwayat itu tidak lepas dari penambahan dan pengurangan, dan banyak sekali yang telah dipalsukan.” (Tafsirul Quranil Adzhim V/168)

Para ulama amat berhati-hati bahkan menjauhi riwayat Israiliyat, walau itu berasal dari para ulama besar atau ahli tafsir Muktabar. Abu Bakar bin Ayyasy bertanya kepada Al-A’masy,

"مَا لَهُمْ يَتَّقُونَ تَفْسِيرَ مُجَاهِدٍ؟" قَالَ "كَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ يَسْأَلُ أَهْلَ الْكِتَابِ"

“Apa yang membuat mereka (para ulama) menjauhi tafsir dari Mujahid?” Al-A’masy menjawab, “Karena mereka melihatnya bertanya kepada Ahli Kitab.” (AR. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat VI/20).

Padahal tidak ada seorang pun yang menyangsikan kapasitas Mujahid dalam ilmu tafsir, sampai-sampai Sufyan Ats-Tsauri mengatakan,

إِذَا جَاءَكَ التَّفْسِيرُ عَنْ مُجَاهِدٍ فَحَسْبُكَ بِهِ

“Apabila tafsir dari Mujahid telah sampai kepadamu, maka itu sudah cukup untukmu (tanpa butuh tafsir lainnya).” (AR. Ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan: 109)

Jika tafsir Mujahid saja yang memiliki kapasitas dalam ilmu tafsir dan salah satu murid utama Ibnu Abbas di “warning” oleh para ulama karena meriwayatkan dari Ahli Kitab, lantas bagaimana dengan tafsir lainnya? Ini semua menjelaskan kepada kita dengan amat terang bahwa Iblis dahulunya bukanlah para Malaikat dan anggapan tersebut merupakan anggapan yang keliru dan wajib dijauhi. Sebab, anggapan itu bukan hanya sekedar tidak benar, tetapi juga bisa mengarah kepada pencederaan terhadap kesucian dan kemuliaan para Malaikat hingga pertentangan antara ayat Al-Quran satu sama lainnya dan ayat Al-Quran dengan hadits-hadits Nabi, di samping membuka peluang masuknya pengaruh keyakinan kaum Yahudi ke tubuh ajaran Islam. Wallahu a’lam


[1] Tanpa sanad

[2] Riwayat-riwayat yang diambil dari Ahli Kitab, Yahudi dan Nashrani.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar