Bulan Rajab adalah salah satu bulan haram dan dimuliakan dalam Islam. Islam menganjurkan agar banyak beribadah di bulan ini dan mengisinya dengan berbagai amal shaleh. Akan tetapi ini menjadi masalah dengan ketika didapati sebagian orang mengkhususkan shalat-shalat tertentu di bulan ini berdasarkan riwayat-riwayat yang batil akibat bermudah-mudah dalam hal menerima hadits-hadits fadhail (berisi keutamaan-keutamaan pada beberapa ibadah tertentu). Di antara yang masyhur adalah shalat Raghaib dan Shalat Nishfu Sya’ban. Lantas bagaimanakah madzhab Syafii menyikapi hal ini?
Kedua shalat ini disebut oleh Abu Hamid Al-Ghazali dan beliau menganjurkannya:
أَمَّا صَلاَةُ رَجَبٍ فَقَدْ رُوِيَ بإِسْنَادٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَا مِنْ أَحَدٍ يَصُومُ أَوَّلَ خَمِيسٍ مِنْ رَجَبٍ ثُمَّ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ وَالْعَتَمَةِ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ رَكْعَةً يُفَصِّلُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيمَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ مَرَّةً وَإِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ اثْنَتَيْ عَشَرَةَ مَرَّةً فَإِذَا فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ صَلَّى عَلَيَّ سَبْعِينَ مَرَّةً يَقُولُ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ ثُمَّ يَسْجُدُ وَيَقُولُ فِي سُجُودِهِ سَبْعِينَ مَرَّةً سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ وَيَقُولُ سَبْعِينَ مَرَّةً رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعَزُّ الْأَكْرَمُ ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَةً أُخْرَى وَيَقُولُ فِيهَا مِثْلَ مَا قَالَ فِي السَّجْدَةِ الْأُولَى ثُمَّ يَسْأَلُ حَاجَتَهُ فِي سُجُودِهِ فَإِنَّهَا تُقْضَى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي أَحَدٌ هَذِهِ الصَّلاَةَ إِلَّا غَفَّرَ اللهُ تَعَالَى لَهُ جَمِيعَ ذُنُوبِهِ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ وَعَدَدَ الرَّمَلِ وَوَزَنَ الْجِبَالِ وَوَرَقَ الْأَشْجَارِ وَيَشْفَعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي سَبْعِمِائَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ مِمَّنْ قَدِ اسْتَوْجَبَ النَّارَ فَهَذِهِ صَلَاةٌ مُسْتَحَبَّةٌ وَإِنَّمَا أَوْرَدْنَاهَا فِي هَذَا الْقِسْمِ لِأَنَّهَا تَتَكَرَّرُ بِتَكَرُّرِ السِّنِيْنَ وَإِنْ كَانَتْ رُتْبَتُهَا لَا تَبْلُغُ رُتْبَةَ التَّرَاوِيحَ وَصَلَاةِ الْعِيدِ لِأَنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ نَقْلُهَا الْآحَادُ وَلَكِنِّي رَأَيْتُ أَهْلَ الْقُدْسِ بِأَجْمَعِهِمْ يُوَاظِبُونَ عَلَيْهَا وَلَا يَسْمَحُونَ بِتَرْكِهَا فَأَحْبَبْتُ إِيرَادَهَا
وَأَمَّا صَلَاةُ شَعْبَانَ فَلَيْلَةُ الْخَامِسِ عَشَرَ مِنْهُ يُصَلِّي مِائَةَ ركْعَةٍ كُلُّ رَكْعَتَيْنِ بِتَسْلِيمَةٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ إِحْدَى عَشْرَةَ مَرَّةً وَإِنْ شَاءَ صَلَّى عَشَرَ رَكْعَاتٍ يَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ مِائَةَ مَرَّةٍ قُل هُوَ اللهُ أَحَدٌ فَهَذَا أَيْضاً مَرْوِيٌّ فِي جُمْلَةِ الصَّلَوَاتِ كَانَ السَّلَفُ يُصَلُّونَ هَذِهِ الصَّلَاةَ وَيُسَمُّونَهَا صَلَاةَ الْخَيْرِ وَيَجْتَمِعُونَ فِيهَا وَرُبَّمَا صَلُّوهَا جَمَاعَةً
"Adapun shalat Rajab, maka telah diriwayatkan dengan sanad-sanad dari Rasulullah, bahwa beliau berkata, “Tiada seorang pun yang berpuasa di awal kamis bulan Rajab, lalu shalat di antara maghrib dan Isya sebanyak 12 rakaat, di mana ia memisah setiap 2 rakaat dengan salam dan membaca Al-Fatihan sekali dan surat “Innaa anzalnaahu fii laylatil qadr” (QS. Al-Qadr) sebanyak 3 kali dan qul huwallahu ahad (QS. Al-Ikhlas) sebanyak 12 kali, lalu ketika ia selesai dari shalatnya, ia bershalawat kepadaku sebanyak 70 kali dengan mengatakan, “Allahumma Shalli ‘alaa Muhammadin nabiyyil ummi wa ‘alaa alihi.” Kemudia ia bersujud dan berkata dalam sujudnya “Subbuhun quddusu rabbul malaikati war ruh” sebanyak 70 kali. Lalu ia mengangkat kepalanya sembari berkata sebanyak 70 kali “Rabbighfir warham wa tajawaz ‘amma ta’lamu. Innaka antal a’azzul akramu”, kemudian ia sujud lagi sembari membaca bacaan pada sujud pertama, lalu ia meminta hajatnya dalam sujudnya itu, pasti hajatnya akan terkabul. Rasulullah berkata, “Tidaklah seseorang melaksanakan shalat seperti ini melainkan Allah akan ampuni seluruh dosanya, meski sebanyak buih di lautan, sebanyak kerikil, seberat gunung, sebanyak daun pepohonan, dan ia akan diberi syafaat di hari kiamat untuk 700 keluarganya yang tercatat pasti masuk neraka.”
Al-Ghazali melanjutkan, “Ini adalah shalat yang dianjurkan. Kami mencantumkannya pada pembahasan ini karena shalat ini terus dilaksanakan sepanjang tahun, meski derajatnya tidak seperti shalat tarawih dan shalat ied. Sebab shalat ini diriwayatkan oleh perseorangan saja, akan tetapi aku melihat penduduk Al-Quds secara keseluruhan merutinkannya dan tidak memperbolehkan meninggalkannya, karena itulah aku senang mencantumkannya. Adapun shalat Sya’ban, maka itu pada hari kelima belas Sya’ban, di mana shalat itu dilaksanakan sebanyak 100 rakaat dan setiap rakaatnya dipisah dengan salam. Di setiap rakaat setelah Al-Fatihah dibaca Qul huwallahu ahad (QS. Al-Ikhlas) sebanyak 11 kali dan jika ia mau, ia dapat melaksanakan shalat itu sebanyak 10 rakaat saja dengan membaca Qul huwallahu ahad (QS. Al-Ikhlas) sebanyak seratus kali di setiap rakaatnya setelah Al-Fatihah. Seperti ini juga diriwayatkan mengenai beberapa shalat (di bulan Rajab). Para salaf terdahulu melaksanakan shalat ini dan menamainya sebagai shalat al-khair. Mereka berkumpul untuk melaksanakannya dan terkadang melakukannya secara berjamaah.” (Ihya Ulumuddin I/202-203).
Al-Iraqi mengomentari hadits yang disebut oleh Al-Ghazali tersebut:
فِي صَلَاةِ الرّغَائِبِ أَوْرَدَهُ رَزِيْنُ فِي كِتَابِهِ وَهُوَ حَدِيثٌ مَوْضُوعٌ
“Terkait (hadits) shalat raghaib itu, diriwayatkan oleh Razin dalam kitabnya dan itu adalah hadits palsu. Beliau juga berkata terkait shalat Nishfu Sya’ban:
حَدِيثُ صَلَاةِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ حَدِيثٌ بَاطِلٌ
“Hadits tentang shalat malam nishfu sya’ban adalah hadits yang batil.” (Takhrijul Ihya I/240)
As-Suyuthi mengatakan mengenai hadits yang dibawakan oleh Al-Ghazali di atas: “Hadits palsu, rawi yang bernama Ibnu Juhaim tertuduh sebagai pemalsu hadits.” (Al-Al-Laliul Mashnu’ah II/48)
Pandangan Al-Ghazali ini didukung oleh Ibnu Shalah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam biografinya:
لَهُ فَتَاوَى سَدِيدَةٌ، وَآرَاءٌ رَشِيدَةٌ مَا عَدَا فُتْيَاهُ الثَّانِيَةِ فِي اسْتِحْبَابِ صَلَاةِ الرَّغَائِبِ
“Ibnu Shalah memiliki fatwa yang lurus dan pendapat yang cemerlang kecuali fatwanya yang kedua mengenai anjuran melaksanakan shalat raghaib.” (Thabaqatus Syafi’iyyin I/857).
Namun pendapat Al-Ghazali maupun fatwa Ibnu Shalah ini ditampik, ditepis, dibantah oleh para ulama Syafiiyah lainnya. Orang yang pertama mengingkari shalat raghaib ini adalah Al-Imam Izzuddin Abdul Aziz bin Abdissalam yang digelari sebagai Sulthanul Ulama (Sultannya Ulama) dari kalangan Syafiiyah. Ibnu Katsir mengatakan dalam biografi Ibnu Abdissalam:
وَرَحَلَ إِلَى بَغْدَادٍ سَنَةُ سَبْعِ وَسَبْعِينَ وَخَمْسِ مِائَةٍ، فَأَقَامَ بِهَا أَشْهُرًا، وَكَانَ آمِرًا بِالْمَعْرُوفِ نَاهِيًا عَنِ الْمُنْكَرِ، وَقَدْ وَلِيَ الْخِطَابَةَ بِدِمَشْقٍ بَعْدَ الذَّيْلَعِي، فَأَزَالَ أَشْيَاءً كَثِيرَةً مِنْ بِدَعِ الْخُطَبَاءِ، وَلَمْ يَلْبَسْ سَوْدًا وَلَا سَجَّعَ خُطْبَةً بَلْ كَانَ يَقُولُهَا مُسْتَرْسِلًا، وَاجْتَنَبَ الثَّنَاءَ عَلَى الْمُلُوكِ، بَلْ كَانَ يَدْعُو لَهُمْ، وَأَبْطَلَ صَلَاةَ الرَّغَائِبِ وَالنِّصْفِ، فَوَقَعَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ شَيْخِ دَارِ الْحَدِيثِ الْإِمَامِ أَبْي عَمْرُو ابْنِ الصَّلاَحِ بِسَبَبِ ذَلِكَ، وَبَرَزَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ فِي إِصَابَةِ اْلحَقِّ
“Beliau pun pergi ke Baghdad pada tahun 577 H dan bermukim selama sebulan di sana. Beliau pun melaksanakan amar makruf nahi munkar. Beliau menjabat sebagai khatib di Damaskus setelah Adz-Dzaila’i. Beliau pun melenyapkan banyak bid’ah dalam hal khutbah, tidak mau memakai pakaian hitam, tidak bersajak ketika khutbah bahkan mengucapkannya secara sederhana, serta enggan memuji para raja dan lebih memilih mendoakan mereka. Beliau juga menghapus shalat raghaib dan nishfu Sya’ban, sehingga terjadi perselisihan antara beliau dengan Syaikh Darul Hadits Al-Imam Abu Amru Ibnu Shalah karena hal itu dan Syaikh Izzuddin tampil sebagai pihak yang benar.” (Thabaqatus Syafi’iyin I/874).
Yang paling tegas dalam membantah shalat raghaib (rajab) ini adalah An-Nawawi. Beliau mengatakan,
الصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ بصلاة الرغائب وهي ثنتى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ فِي رَجَبٍ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيحَتَانِ وَلَا يُغْتَرُّ بِذَكَرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَإِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ وَلَا بِالْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ فِيهِمَا فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ وَلَا يُغْتَرُّ بِبَعْضِ مَنْ اشْتَبَهَ عَلَيْهِ حُكْمُهُمَا مِنْ الْأَئِمَّةِ فَصَنَّفَ وَرَقَاتٍ فِي اسْتِحْبَابِهِمَا فَإِنَّهُ غَالِطٌ فِي ذَلِكَ وَقَدْ صَنَّفَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدٍ عبد الرحمن بن اسمعيل الْمَقْدِسِيُّ كِتَابًا نَفِيسًا فِي إبْطَالِهِمَا فَأَحْسَنَ فِيهِ وَأَجَادَ رَحِمَهُ اللَّهُ
“Shalat yang terkenal dengan shalat Raghaib, yaitu 12 rakaat yang dilaksanakan antara maghrib dan Isya di malam jumat pertama bulan Rajab dan shalat malam nishfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat, maka kedua shalat ini merupakan kedua bid’ah yang mungkar lagi buruk dan jangan tertipu karena kedua shalat tersebut tercantum dalam Kitab Qutul Qulub dan Ihya Ulumuddin serta hadits yang menyebutkan tentang kedua shalat itu. Sebab, seluruh hadits tersebut batil. Dan jangan tertipu dengan sebagian imam yang menyamarkan hukum (kebid’ahan) keduanya, di mana ia sampai menulis beberapa halaman dalam menguatkan anjurannya. Karena ia telah keliru dalam hal itu. Syaikh Al-Imam Abu Muhammad bin Abdurrahman bin Ismail Al-Maqdisi telah menulis kitab yang bagus dalam membantah kedua shalat bid’ah itu. Beliau membantahnya dengan bagus dan baik.” (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab IV/56)
Bahkan beliau memberi celaan yang amat keras terhadap para pelaku shalat raghaib dalam kitab beliau yang lain. An-Nawawi mengatakan:
وَاحْتَجَّ بِهِ الْعُلَمَاءُ عَلَى كَرَاهَةِ هَذِهِ الصَّلَاةِ الْمُبْتَدَعَةِ الَّتِي تُسَمَّى الرَّغَائِبُ قَاتَلَ اللَّهُ وَاضِعَهَا وَمُخْتَرِعَهَا فَإِنَّهَا بِدْعَةٌ مُنْكَرَةٌ مِنَ الْبِدَعِ الَّتِي هِيَ ضَلَالَةٌ وَجَهَالَةٌ وَفِيهَا مُنْكَرَاتٌ ظَاهِرَةٌ وَقَدْ صَنَّفَ جَمَاعَةٌ مِنَ الْأَئِمَّةِ مُصَنَّفَاتٍ نَفِيسَةً فِي تَقْبِيحِهَا وَتَضْلِيلِ مُصَلِّيهَا وَمُبْتَدِعِهَا وَدَلَائِلِ قبحها وبطلانها وتضلل فَاعِلِهَا أَكْثَرَ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ
“Para ulama berhujjah dengan hadits ini dalam menegaskan dibencinya shalat bid’ah yang biasa disebut dengan shalat raghaib. Semoga Allah membinasakan inisiator dan pelopornya. Sebab shalat tersebut adalah bid’ah munkar yang berasal dari kesesatan dan kebodohan. Di dalamnya banyak kemungkaran yang amat jelas. Sebagian imam telah membuat tulisan yang baik dalam mencela dan menvonis sesat para pelaku shalat tersebut dan yang mengada-adakannya, termasuk berbagai dalil tentang keburukan, kebatilan, dan kesesatan pelakunya yang banyak sekali tanpa bisa dihitung.” (Syarh Shahih Muslim VIII/20)
Pendapat An-Nawawi ini diikuti oleh keempat ulama rujukan Syafiiyah mutaakhkhirin, yaitu Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshar, Khathib Asy-Syarbini, Ibnu Hajar Al-Haytami, dan Jamal Ar-Ramli.[1] Maka jadilah ini sebagai pendapat yang muktamad dalam madzhab Syafii, berdasarkan kaidah yang disampaikan oleh Al-Mandaili: “Apabila keempat ulama tersebut telah sepakat dalam sebuah hukum, maka itulah yang muktamad (wajib diikuti) tanpa diragukan lagi (menurut Syafiiyah mutaakhkhirin).” (Al-Khazainus Sunniyyah: 171)
Diriwayatkan bahwa Ibnu Shalah mengakui kebid’ahan shalat raghaib tersebut. Hal ini juga disebutkan oleh As-Suyuthi. As-Suytuhi menyebutkan bahwa Ibnu Shalah awalnya melarang melaksanakan shalat raghaib, lalu berubah pendapat dan memperbolehkannya setelah Izzuddin bin Abdissalam tiba di Damaskus yang secara tegas melarangnya.[2] Akan tetapi Al-Haytami menyebutkan bahwa Ibnu Shalah tetap membela pelaksanaan shalat raghaib –meski mengakuinya bid’ah- karena termasuk dari ibadah yang keutamaannya memiliki asal –sebab pada asalnya disunnahkan memperbanyak shalat di bulan Rajab karena termasuk dari salah satu bulan haram-.[3] Akan tetapi hal tersebut ditampik oleh para ulama Syafiiyah setelah beliau seperti As-Subki. Ini dinukil oleh Al-Haytami dalam fatwanya:
وَاخْتَلَفَتْ فَتَاوَى ابْنُ الصَّلَاحِ فِيهِمَا، وَقَالَ فِي الْآخَرِ: هُمَا وَإِنْ كَانَا بِدْعَتَيْنِ لَا يُمْنَعُ مِنْهُمَا لِدُخُولِهِمَا تَحْتَ الْأَمْرِ الْوَارِد بِمُطْلَقِ الصَّلَاةِ وَرَدَّهُ السُّبْكِيّ بِأَنَّ مَا لَمْ يَرِدْ فِيهِ إلَّا مُطْلَقُ طَلَبِ الصَّلَاةِ وَأَنَّهَا خَيْرُ مَوْضُوعٍ فَلَا يُطْلَبُ مِنْهُ شَيْءٌ بِخُصُوصِهِ فَمَتَى خَصَّ شَيْئًا مِنْهُ بِزَمَانٍ أَوْ مَكَان أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ دَخَلَ فِي قِسْمِ الْبِدْعَةِ وَإِنَّمَا الْمَطْلُوبُ مِنْهُ عُمُومُهُ فَيَفْعَلْ لِمَا فِيهِ مِنْ الْعُمُومِ لَا لِكَوْنِهِ مَطْلُوبًا بِالْخُصُوصِ
“Dan terjadi perbedaan pada fatwa Ibnu Shalah dalam kedua shalat tersebut (shalat rajab dan nishfu sya’ban). Ibnu Shalat berfatwa pada kesempatan lain, “Kedua shalat tersebut walaupun bid’ah tetap tidak mencegahnya untuk dikerjakan karena termasuk pada keumuman anjuran melaksanakan shalat. Akan tetapi As-Subki membantahnya dengan argumentasi “apa saja yang tidak diriwayatkan selain dari keumuman melaksanakan shalat dan hal itu adalah ibadah terbaik, maka bukan berarti boleh dituntut pelaksanaannya secara khusus. Tatkala shalat (yang perintahnya bersifat umum) dikhususkan dengan waktu dan tempat tertentu atau semisalnya, maka hal itu termasuk dari perkara bid’ah. Sebab yang dituntut dari hal itu adalah keumumannya, maka hendaknya dikerjakan secara umum, bukan karena hal itu dituntut (dikerjakan) secara khusus.” (Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah II/80)
Pada dasarnya Ibnu Shalah memiliki 2 pendapat yang sedikit berbeda pada fatwanya terkait shalat raghaib dan shalat nishfu sya’ban ini. Pendapat pertama, beliau mengakui bahwa haditsnya palsu dan merupakan bid’ah. Akan tetapi boleh dikerjakan baik secara berjamaah atau sendirian selama tidak dijadikan syiar keagamaan secara khusus. Pendapat kedua, beliau memperbolehkannya jika dilakukan secara sendirian selama tidak dilakukan secara berjamaah. Kedua pendapat Ibnu Shalah ini dikutip oleh Abu Syamah.[4] Titik persamaan kedua fatwa beliau itu adalah haditsnya palsu, bid’ah, dan tidak boleh dijadikan sebagai syiar keagamaan. Perbedaannya, pada fatwa pertama boleh dilakukan secara mutlak, sedangkan fatwa kedua hanya boleh dilakukan secara sendirian. Inilah yang dikritisi oleh As-Subki.
Penjelasan As-Subki yang dinukil oleh Al-Haytami ini mengisyaratkan bahwa tidak boleh mengkhususkan suatu ibadah (seperti shalat) kecuali ada tuntutan atau dasarnya dari nash syariat. Apabila ibadah tersebut sifatnya umum seperti anjuran memperbanyak amal shaleh pada bulan Rajab, maka hendaknya shalat sunnah yang merupakan amal shaleh terbaik juga dilakukan secara umum dan tidak boleh dikhususkan dengan alasan apa pun. Tidak bolehnya mengkhususkan ibadah tertentu pada waktu atau tempat tertentu dipertegas oleh Al-Haytami dalam fatwanya tentang shalat nishfu sya’ban. Al-Haytami mengatakan:
وَالْحَاصِلُ أَنَّ لِهَذِهِ اللَّيْلَةِ فَضْلًا وَأَنَّهُ يَقَعُ فِيهَا مَغْفِرَةٌ مَخْصُوصَةٌ وَاسْتِجَابَةٌ مَخْصُوصَةٌ وَمِنْ ثَمَّ قَالَ الشَّافِعِيُّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيهَا وَإِنَّمَا النِّزَاعُ فِي الصَّلَاةِ الْمَخْصُوصَةِ لَيْلَتهَا وَقَدْ عَلِمْت أَنَّهَا بِدْعَةٌ قَبِيحَةٌ مَذْمُومَةٌ يُمْنَعُ مِنْهَا فَاعِلُهَا، وَإِنْ جَاءَ أَنَّ التَّابِعِينَ مِنْ أَهْلِ الشَّامِ كَمَكْحُولٍ وَخَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ وَلُقْمَانَ وَغَيْرِهِمْ يُعَظِّمُونَهَا وَيَجْتَهِدُونَ فِيهَا بِالْعِبَادَةِ، وَعَنْهُمْ أَخَذَ النَّاسُ مَا ابْتَدَعُوهُ فِيهَا وَلَمْ يَسْتَنِدُوا فِي ذَلِكَ لِدَلِيلٍ صَحِيحٍ وَمِنْ ثَمَّ قِيلَ أَنَّهُمْ إنَّمَا اسْتَنَدُوا بِآثَارٍ إسْرَائِيلِيَّةٍ وَمِنْ ثَمَّ أَنْكَرَ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ أَكْثَرُ عُلَمَاء الْحِجَازِ كَعَطَاءٍ وَابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ وَفُقَهَاء الْمَدِينَة وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ وَغَيْرِهِمْ قَالُوا وَذَلِكَ كُلُّهُ بِدْعَةٌ إذْ لَمْ يَثْبُت فِيهَا شَيْءٌ عَنْ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ
“Kesimpulannya, malam nishfu sya’ban ini memiliki keutamaan dan di dalamnya terdapat ampunan secara khusus dan waktu mustajab secara khusus, ditambah dengan ucapan Asy-Syafii: “Sesungguhnya doa mustajab pada malam itu.” Permasalahannya hanya pada shalat khusus yang dilakukan pada malam tersebut. Telah diketahui bahwa itu adalah bid’ah yang buruk lagi tercela dan terlarang melaksanakannya, meskipun ada riwayat bahwa tabi’in dari kalangan penduduk Syam seperti Makhul, Khalid bin Ma’dan, dan Luqman serta lainnya mengagungkannya dan bersungguh-sungguh beribadah di dalamnya. Dari merekalah khalayak mengambil perkara-perkara bid’ah di malam itu dan mereka tidak mendasarkannya dengan sebuah dalil shahih pun. Kemudian konon mereka melakukannya atas dasar beberapa atsar Israiliyat dan hal itu telah diingkari oleh mayoritas ulama Hijaz seperti Atha, Ibnu Abi Mulaikah, dan para ahli fikih Madinah. Ini juga pendapat rekan-rekan Asy-Syafii dan Malik serta lainnya, di mana mereka berkata: “Semua hal itu (shalat dan menghidupkan malam nishfu sya’ban secara khusus) adalah bid’ah, karena tidak ada dasar yang shahih mengenai hal itu dari Nabi dan satu orang pun dari shahabat beliau.” (Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah II/80)
Al-Haytami juga mengecam keras amalan sebagian orang yang melakukan shalat khusus di bulan Ramadhan dengan istilah shalat Al-Bara-ah. Al-Haytami mengatakan:
بِقَوْلِهِ أَمَّا صَلَاةُ الرَّغَائِبِ فَإِنَّهَا كَالصَّلَاةِ الْمَعْرُوفَةِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ بِدْعَتَانِ قَبِيحَتَانِ مَذْمُومَتَانِ وَحَدِيثُهُمَا مَوْضُوعٌ فَيُكْرَهُ فِعْلُهُمَا فُرَادَى وَجَمَاعَةً وَأَمَّا صَلَاةُ الْبَرَاءَةِ فَإِنْ أُرِيدَ بِهَا مَا يُنْقَلُ عَنْ كَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ مِنْ صَلَاةِ الْمَكْتُوبَاتِ الْخَمْسِ بَعْدَ آخِرِ جُمُعَةٍ فِي رَمَضَانَ مُعْتَقِدِينَ أَنَّهَا تُكَفِّرُ مَا وَقَعَ فِي جُمْلَةِ السَّنَةِ مِنْ التَّهَاوُنِ فِي صَلَاتِهَا فَهِيَ مُحَرَّمَةٌ شَدِيدَةُ التَّحْرِيم يَجِبُ مَنْعُهُمْ مِنْهَا لِأُمُورٍ مِنْهَا أَنَّهُ تَحْرُمُ إعَادَةُ الصَّلَاةِ بَعْدَ خُرُوجِ وَقْتِهَا وَلَوْ فِي جَمَاعَةٍ وَكَذَا فِي وَقْتِهَا بِلَا جَمَاعَةٍ وَلَا سَبَبٍ يَقْتَضِي ذَلِكَ وَمِنْهَا أَنَّ ذَلِكَ صَارَ سَبَبًا لِتَهَاوُنِ الْعَامَّةِ فِي أَدَاءِ الْفَرَائِض لِاعْتِقَادِهِمْ أَنَّ فِعْلَهَا عَلَى تِلْكَ الْكَيْفِيَّةِ يُكَفِّرُ عَنْهُمْ ذَلِكَ
“Ada pun shalat Raghaib, maka ia sama seperti shalat yang dikenal dengan shalat malam nishfu sya’ban. Keduanya adalah bid’ah yang buruk lagi tercela dan hadits tentang kedua shalat tersebut adalah palsu, maka dibenci melakukannya baik dalam keadaan sendirian maupun berjamaah. Adapun shalat Al-Bara-ah, yakni shalat yang dinukil dikerjakan oleh kebanyakan penduduk Yaman yaitu shalat khusus setelah shalat 5 waktu yang dilaksanakan pada jumat terakhir bulan Ramadhan dengan keyakinan shalat tersebut akan menghapuskan dosa-dosa akibat melalaikan shalat selama setahun, maka shalat itu haram dengan pengharaman yang sangat. Wajib melarang khalayak melaksanakannya karena beberapa alasan, di antaranya shalat itu akan menjadikan tidak bolehnya mengulang shalat setelah lewat waktunya meski dilaksanakan secara berjamaah dan mengulang shalat pada waktunya tanpa berjamaah, padahal tidak ada sebab atas hal itu. Termasuk akan menjadi sebab khalayak akan meremehkan pelaksanaan shalat-shalat fardhu karena keyakinan mereka dengan melaksanakan shalat melalui cara seperti itu dapat menghapuskan seluruh dosa-dosa mereka (akibat melalaikan shalat).” (Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah I/217)
Disebutkan bahwa sebagian ulama ada yang memperbolehkan melaksanakan shalat nishfu sya’ban tersebut jika dilakukan dengan sendiri-sendiri, tidak dengan berjamaah[5]. Akan tetapi hal tersebut tetap ditolak oleh para ulama Syafiiyah mutaakhkhirin. Di antaranya Al-Haytami sebagaimana fatwa beliau di atas dan Jamal Ar-Ramli. Ar-Ramli mengatakan:
وَصَلَاةُ الرَّغَائِبِ أَوَّلَ جُمُعَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةَ نِصْفِ شَعْبَانَ بِدْعَتَانِ قَبِيحَتَانِ مَذْمُومَتَانِ وَحَدِيثُهُمَا بَاطِلٌ، وَقَدْ بَالَغَ فِي الْمَجْمُوعِ فِي إنْكَارِهَا، وَلَا فَرْقَ بَيْنَ صَلَاتِهَا جَمَاعَةً أَوْ فُرَادَى كَمَا يُصَرِّحُ بِهِ كَلَامُ الْمُصَنِّفِ، وَمَنْ زَعَمَ عَدَمَ الْفَرْقِ فِي الْأُولَى وَأَنَّ الثَّانِيَةَ تُنْدَبُ فُرَادَى قَطْعًا فَقَدْ وَهَمَ، وَأَيُّ فَرْقٍ بَيْنَهُمَا مَعَ أَنَّ الْمَلْحَظَ بُطْلَانُ حَدِيثِهِمَا، وَأَنَّ فِي نَدْبِهِمَا بِخُصُوصِهِمَا جَمَاعَةً أَوْ فُرَادَى إحْدَاثَ شِعَارٍ لَمْ يَصِحَّ وَهُوَ مَمْنُوعٌ فِي الصَّلَوَاتِ سِيَّمَا مَعَ تَوْقِيتِهِمَا بِوَقْتٍ مَخْصُوصٍ
“Shalat raghaib di jumat pertama bulan Rajab dan di malam nishfu sya’ban adalah bid’ah yang buruk lagi tercela dan hadits mengenai kedua shalat tersebut batil. An-Nawawi secara tegas mengingkarinya dalam Al-Majmu’. Tidak ada bedanya apakah dilakukan secara berjamaah atau berkesendirian sebagaimana yang telah ditegaskan oleh penyusun kitab ini (An-Nawawi). Siapa saja yang beranggapan bahwa tidak ada perbedaan pada shalat pertama (raghaib) dan shalat kedua (nishfu sya’ban) dianjurkan jika dilakukan dengan berkesendirian, maka ia telah keliru. Bagaimana ada perbedaan di antara keduanya sementara hadits mengenai keduanya batil dan anjuran pelaksanaan kedua shalat itu secara khusus baik dengan berjamaah atau sendirian merupakan bentuk syiar yang tidak shahih dan termasuk shalat-shalat yang dilarang di samping adanya pelaksanannya yang terikat dengan waktu khusus.” (Nihayatul Muhtaj II/124).
Kesimpulannya, yang muktamad dalam madzhab Syafii adalah shalat rajab (raghaib) maupun shalat nishfu sya’ban terlarang dilaksanakan. Kedua shalat tersebut adalah bid’ah yang tercela. Inilah yang dipegang dan dianut oleh para ahli fikih madzhab Syafii yang menjadi rujukan, seperti An-Nawawi dan keempat masyayikh Syafiiyah abad ke-10 serta disepakati oleh Al-Haytami dan Ar-Ramli. Maka tidak selayaknya menyelisihi mereka dengan dalih apa pun sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum shufi yang mengaku bermadzhab Syafii hari ini –beralasan dengan apa yang terdapat dalam kitab Ihya Ulumiddin karya Al-Ghazali-. Karena tidak ada satu pun alasan untuk mendukung bolehnya melaksanakan kedua shalat tersebut baik dari sisi dalil, pendalilan, dan pendapat ulama madzhab Syafii.
Al-Mandaili mengatakan, “Meski pentingnya kedudukan keempat syaikh tersebut, namun rujukan fatwa berhenti pada kedua syaikh, yaitu Ibnu Hajar Al-Haytami dan Jamal Ar-Ramli. Adapun selain keduanya, maka tidak boleh berfatwa dengan pendapat mereka apabila menyelisihi pendapat kedua syaikh tersebut atau menyelisihi kandungan kitab At-Tuhfatul Muhtaj dan Nihayatul Muhtaj. Sebab harus merujuk pada kedua syaikh tersebut adalah karena para peneliti Syafiiyah telah menemukan bahwa apa yang terdapat pada kedua kitab tersebut merupakan pondasi madzhab Syafii.” (Al-Khazainus Sunniyyah II/124)
Ini menunjukkan bahwa kitab Ihya Ulumiddin tidak dapat dijadikan sebagai rujukan jika bertentangan dengan apa yang dirajihkan oleh Zakariya Al-Anshari, Al-Haytami, Ar-Ramli, dan Asy-Syarbini, di samping kitab tersebut sejatinya bukanlah sebuah karya fiqh. Karena penulisnya Al-Ghazali menulis bukan untuk kepentingan fiqh. Alasan bid’ahnya kedua shalat tersebut amat jelas, yaitu karena palsunya hadits yang dijadikan dasar untuk melaksanakannya dan adanya pengkhususan waktu yang didasarkan pada riwayat-riwayat palsu tersebut. Termasuk dalam hal ini menghidupkan malam nishfu sya’ban secara khusus sebagaimana pemaparan Al-Allamah Al-Haytami di atas karena kelemahan riwayatnya. Inilah yang ditegaskan oleh Imam Izzuddin bin Abdissalam, An-Nawawi, As-Subki, Zakariyah Al-Anshari, Asy-Syarbini, Al-Haytami, dan Ar-Ramli. Para ahli hadits Syafiiyah yang menilai batilnya hadits terkait shalat raghaib dan nishfu sya’ban adalah Abu Syamah (guru An-Nawawi), An-Nawawi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, Ibnus Subki, Al-Asqalani, dan As-Suyuthi, bahkan Ibnu Shalah sendiri turut memvonis kepalsuan haditsnya.[6] Wallahu a’lam bish shawab[1] Al-Anshari dalam Asnal Mathalib I/206, Asy-Syarbini dalam Mughniyul Muhtaj I/459, Al-Haytami dalam Tuhfatul Muhtaj II/239, Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj II/124
[2] Lihat Al-Hawi lil Fatawa I/315
[3] Pendapat ini juga dinukil oleh Abu Syamah dalam Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ I/44
[4] Pendapat ini dinukil oleh Abu Syamah dalam Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ I/44
[5] Di antaranya adalah Imam penduduk Syam, Al-Auza’i. Beliau menganjurkan shalat malam dilakukan pada malam nishfu sya’ban selama dilakukan dengan sendiri-sendiri di rumah, tidak dengan berkumpul dan berjamaah di masjid. Ini disebut oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaiful Ma’arif. Termasuk yang berpendapat sama dengan Al-Auzai adalah Ibnu Taymiyah Al-Hanbali dalam Majmu’ Fatawa-nya.
[6] Abu Syamah dalam Al-Ba’its I/42, Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah III/135, Adz-Dzahabi dalam As-Siyar XXIII/143, Ibnus Subki dalam Thabaqatusy Syafiiyah VI/298, Al-Asqalani dalam Tabyinul Ajab, As-Suyuthi dalam Al-Lalil Mashnu’ah. Pendapat Ibnu Shalah dinukil oleh Abu Syamah dalam Al-Ba’its I/44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar