Tulisan ini sengaja kami buat untuk memaparkan secara murni bagaimana sejatinya para ulama Syafiiyah dan madzhab Syafii memandang hukum “mengirim bacaan Al-Quran kepada mayit”. Sebuah telaah yang dilakukan secara objektif dan penuh kejujuran dengan merujuk pada sumber-sumber resmi madzhab Syafii. Tentunya dengan menghormati perbedaan di kalangan kaum muslimin dan para ulama dalam hal ini. Sekaligus untuk menepis anggapan sebagian golongan yang merasa asing pada pendapat “tidak sampainya bacaan Al-Quran kepada mayit.” Pada tulisan ini akan dipaparkan pendapat para ulama Syafiiyah yang muktabar dan masyhur terkait masalah ini.
Baca: Keharaman Kepiting Dalam Madzhab Syafii
Pendapat Imam Asy-Syafii
Kita mulai menukil bagaimana pandangan Imam Asy-Syafii selaku muassis (peletak dasar) madzhab Syafii sendiri. Imam Al-Muzani berkata meriwayatkan langsung dari beliau,
فِي الْإِمْلَاءِ يَلْحَقُ الْمَيِّتَ مِنْ فِعْلِ غَيْرِهِ ثَلَاثٌ حَجٌّ يُؤَدَّى وَمَالٌ يُتَصَدَّقُ بِهِ عَنْهُ أَوْ دَيْنٌ يُقْضَى، وَدُعَاءٌ أَجَازَ النَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - الْحَجَّ عَنْ الْمَيِّتِ وَنَدَبَ اللَّهُ - تَعَالَى - إلَى الدُّعَاءِ وَأَمَرَ بِهِ رَسُولَهُ - عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ -
“Dalam Al-Imla (Asy-Syafii berkata), mayit mendapatkan pahala dari perbuatan orang lain untuknya pada 3 hal: haji yang ditunaikan, harta yang disedekahkan untuknya atau utang yang dibayarkan untuknya, dan doa. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang memperbolehkan haji untuk mayit dan Allah –Ta’ala- yang menganjurkan doa dan juga diperintahkan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. (Mukhtashar Al-Muzani 1/152)
Pada nash ini, amat jelas terlihat bahwa Imam Asy-Syafii tidak memasukkan bacaan Al-Quran bagian dari amal shaleh yang bisa diberikan kepada mayit selain haji, sedekah, dan doa. Imam Ibnu Katsir menjelaskan pendalilan Imam Asy-Syafii dalam hal ini ketika menafsirkan surat An-Najm: 39,
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
“Tidaklah bagi manusia selain (dari) apa-apa yang telah ia usahakan.” (An-Najm: 39)
Ibnu Katsir mengatakan,
وَمِنْ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ اسْتَنْبَطَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَهُ، أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَوْتَى، لِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلَا كَسْبِهِمْ وَلِهَذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّتَهُ وَلَا حَثَّهُمْ عَلَيْهِ وَلَا أَرْشَدَهُمْ إِلَيْهِ بِنَصٍّ وَلَا إِيمَاءٍ، وَلَمْ يُنْقَلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْرًا لَسَبَقُونَا إِلَيْهِ، وَبَابُ الْقُرُبَاتِ يُقْتَصَرُ فِيهِ عَلَى النُّصُوصِ وَلَا يُتَصَرَّفُ فِيهِ بِأَنْوَاعِ الْأَقْيِسَةِ وَالْآرَاءِ، فَأَمَّا الدُّعَاءُ وَالصَّدَقَةُ فَذَاكَ مُجْمَعٌ عَلَى وُصُولِهِمَا وَمَنْصُوصٌ مِنَ الشَّارِعِ عَلَيْهِمَا
“Dari ayat yang mulia ini, Asy-Syafii rahimahullah dan para pengikutnya ber-istinbath (mengambil kesimpulan hukum) bahwa bacaan (Al-Quran) tidak akan sampai jika dihadiahkan pahalanya kepada para mayit. Karena itu bukan bagian dari amal dan usaha mereka. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menganjurkan maupun memotivasi atau mengajarkan hal itu kepada umat beliau dalam sabda maupun persetujuan beliau. Juga tidak ada diriwayatkan dari seorang shahabat pun yang melakukan hal itu radhiyallahu ‘anhum. Andaikan itu baik, niscaya mereka akan bersegera melakukannya. Sementara bab al-qurubat (yang sifatnya ibadah murni) hanya boleh bersandarkan pada nash dan tidak boleh dialihkan dengan menggunakan berbagai jenis qiyas dan pendapat. “Adapun doa dan sedekah, maka itu telah disepakati (oleh para ulama) akan sampai pahalanya dan hal itu telah ditegaskan oleh syari’ (pembuat syari’at).” (Tafsir Al-Quran Al-‘Adzhim 7/431)
Sejatinya bukan Ibnu Katsir yang mendalilkan hal ini pertama kali. Namun beliau didahului oleh seorang ulama masyhur Syafiiyah yang menjadi rujukan dan diakui sebagai mujtahid madzhab dalam madzhab Syafii, yaitu Imam Abu Zakariya An-Nawawi. Imam An-Nawawi mengatakan setelah menegaskan lemahnya pendapat bolehnya mengirimkan berbagai amal shaleh kepada mayit,
وَكُلُّ هَذِهِ الْمَذَاهِبِ ضَعِيفَةٌ وَدَلِيلُهُمُ الْقِيَاسُ عَلَى الدُّعَاءِ وَالصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ فَإِنَّهَا تَصِلُ بِالْإِجْمَاعِ وَدَلِيلُ الشَّافِعِيِّ وَمُوَافِقِيهِ قَوْلُ اللَّهِ تَعَالَى وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى وَقَوْلُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَاتَ بْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Seluruh pendapat (madzhab) ini lemah dan dalil mereka hanya qiyas terhadap doa, sedekah, dan haji, di mana hal itu memang sampai menurut ijma’. Sementara dalil Asy-Syafii dan kalangan yang bersetuju dengannya adalah firman Allah Ta’ala, “Tidaklah bagi manusia selain (dari) apa-apa yang telah ia usahakan.” Serta sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila telah wafat anak Adam, terputuslah amalnya kecuali 3 hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dapat dimanfaatkan, atau anak shaleh yang mendoakannya.” (Syarh Shahih Muslim 1/90)
Pendapat Yang Masyhur Dalam Madzhab Syafii
Bukan hanya pendapat Imam Asy-Syafii. Tetapi “tidak sampainya bacaan Al-Quran kepada mayit” merupakan pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii. Bahkan Imam An-Nawawi sampai menegaskan bahwa ini juga pendapat mayoritas ulama. Imam An-Nawawi ditanyai,
"هَلْ يَصلُ إِلَى الْمَيِتِ ثَوَابُ مَا يُتَصَدَقُ بِهِ عَنْهُ أَوِ الدُّعَاءِ أَوْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ؟"
“Apakah akan sampai kepada mayit pahala harta yang disedekahkan untuknya atau doa untuknya atau bacaan Al-Quran untuknya?”
Beliau menjawab,
يَصِلُهُ ثَوَابُ الدُّعَاءِ وَثَوَابُ الصَّدَقَةِ بالِإجْمَاعِ وَاخْتَلَفُوا فِي ثَوَابِ الْقِرَاءَةِ، فَقَالَ أَحْمَدُ وَبَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ: يَصِلُ، وَقَالَ الشَّافِعِيُّ وَالْأَكْثَرُونَ: لَا يَصِلُ
“Akan sampai kepadanya pahala doa dan pahala sedekah berdasarkan ijma’ (konsensus ulama). Mereka (ulama) berbeda pendapat mengenai pahala bacaan. Ahmad dan sebagian penganut madzhab Syafii berpendapat sampai, tetapi Asy-Syafii dan kebanyakan (ulama) berpendapat tidak sampai.” (Fatawa An-Nawawi: 83)
Imam An-Nawawi menegaskan kemasyhuran ini pada 3 kitab beliau. Pertama, pada fatwa beliau sebagaimana di atas. Kedua, pada syarah beliau terhadap Shahih Muslim. Ketiga, pada kitab beliau tentang dzikir dan doa yaitu Al-Adzkar. Pada Syarh Shahih Muslim beliau mengatakan,
وَأَمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فَالْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيِّتِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ يَصِلُ ثَوَابُهَا إِلَى الْمَيِّتِ
“Adapun yang bacaan Al-Quran, maka yang masyhur dari madzhab Syafii adalah tidak sampai pahalanya kepada mayit. Sebagian penganut madzhabnya berpendapat pahalanya (bacaan Al-Quran) sampai kepada mayit.” (Syarh Shahih Muslim 1/90)
Dalam Al-Adzkar beliau menegaskan kembali,
وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي وُصُولِ ثَوَابِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، فَالْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَجَمَاعَةٌ أَنَّهُ لَا يَصِلُ، وَذَهَبَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ وَجَمَاعةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إِلَى أَنَّهُ يَصِلُ
“Para ulama berbeda pendapat mengenai sampainya pahala bacaan Al-Quran. Maka pendapat yang masyhur dari madzhab Syafii dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun Ahmad, sekelompok ulama, dan sekelompok penganut madzhab Syafii berpendapat sampai” (Al-Adzkar: 1/165)
Kami ketengahkan ucapan Imam An-Nawawi ini guna menegaskan validnya pendapat ini. Sebab, Imam An-Nawawi adalah rujukan Syafiiyah yang paling menguasai berbagai versi, riwayat, maupun pendapat yang beredar di kalangan Syafiiyah terdahulu. Klaim masyhurnya pendapat ini bukan datang dari An-Nawawi. Namun didahului oleh Imam Abu Al-Qasim Ar-Rafii. Imam Ar-Rafi’i mengatakan,
وَمَشْهُورٌ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يُلْحِقُهُ ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ الْمُجَرَّدَةِ
“Dan masyhur bahwa mayit tidak akan sampai padanya pahala bacaan yang diniatkan semata.” (Asy-Syarh Al-Kabir 6/107)
Kemasyhuran ini juga divalidasi oleh sebagian ulama Syafiiyah mutaakkhirin, di antaranya adalah Al-‘Allamah Asy-Syarbini dan Al-Hafizh Ibnu Mulaqqin. Asy-Syarbini mengatakan ketika men-syarah Minhaj At-Thalibin karya An-Nawawi,
كَلَامُ الْمُصَنِّفِ قَدْ يُفْهِمُ أَنَّهُ لَا يَنْفَعُهُ ثَوَابٌ غَيْرُ ذَلِكَ كَالصَّلَاةِ عَنْهُ قَضَاءً أَوْ غَيْرِهَا وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَهَا هُوَ الْمَشْهُورُ عِنْدَنَا
“Ucapan penyusun (An-Nawawi) memberi pemahaman bahwa tidak bermanfaat bagi mayit pahala selain itu seperti shalat yang diniatkan untuknya seperti qadha atau yang lainnya. Begitu juga bacaan Al-Quran. Inilah yang masyhur menurut (madzhab) kami.” (Mughni Al-Muhtaj 4/110)
Ibnu Mulaqqin mengatakan,
لا يَصِلُ إليهِ أَيْ إِلَى الْميِّتِ عِنْدَنَا ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ عَلَى الْمَشْهُورِ
“Tidak sampai kepadanya, yaitu mayit menurut (madzhab) kami (Syafiiyah) pahala bacaan (Al-Quran) menurut yang masyhur.” (‘Ajalah Al-Minhaj 3/1104)
Hal yang sama juga divalidasi oleh Ibnu Qadhi Syuhbah dan ‘Umairah.[1] Demikian juga Ad-Damiri, meski Ad-Damiri menggunakan lafal pasif untuk menunjukkan kemasyhurannya[2]. Sebagian Syafiiyah menegaskan bahwa ini adalah pendapat madzhab Syafii tanpa ada opsi lain sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Baghawi dan Al-Imrani.[3]
Al-Imam Al-‘Izz bin Abdus Salam termasuk yang sangat keras dalam hal ini. Beliau pernah ditanya mengenai mengirim bacaan kepada mayit dan beliau menjawab,
وَأَمَّا ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ فَمَقْصُورٌ عَلَى الْقَارِئِ، لَا يَصِلُ إِلَى غَيْرِهِ؛ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} [النجم: 39]، وَقَوْلِهِ: {لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ} [البقرة: 286]، وَقَوْلِهِ: {إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا} [الإسراء: 7]، فَجَعَلَ أجرَ الْاِكْتِسَابِ لِفَاعِلِيهَا، فَمَنْ جَعَلَهَا لِغَيْرِه فَقَدْ خَالَفَ ظَاهِرَ الآيَةِ بِغَيْرِ دَلِيلٍ شَرْعِيٍّ، وَمَنْ جَعَلَ ثَوَابَ الْقِرَاءَةِ لِلْمَيِّتِ فَقَدْ خَالَفَ قَوْلَهُ تَعَالَى: {وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى} [النجم: 39]، فَإِنَّ الْقِرَاءَةَ لَيْسَتْ مِنْ سَعْيِ الْمَيِّتِ.
وَكَذَلِكَ جَعَلَ اللهُ الْعَمَلَ الصَّالِحَ لِعَامِلِهِ بِقَوْلِهِ: {مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ} [فصلت: 46]، فَمَنْ جَعَلَ شَيْئًا مِنَ الْأَعْمَالِ لِغَيْرِ الْعَامِلِينَ فَقَدْ خَالَفَ الْخَبَرَ الصَّادِقَ، وَالْعَجَبُ أَنَّ مِنَ النَّاسِ مَنْ يُثْبِتُ ذَلِكَ بِالْمَنَامَاتِ، وَلَيْسَتِ الْمَنَامَاتِ مِنَ الْحُجَجِ الشَّرِيعَةِ الَّتِي يُثْبِتُ بِهَا الْأَحْكَامُ، وَلَعَلَّ الْمَرْأِيَّ فَيِ ذَلِكَ مِنْ تَخَبُّطِ الشَّيْطَانِ وَتَزْيِينِهِ، وَلَا يَجُوزُ إِهْدَاءِ شَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ وَلَا مِنَ الْعِبَادَاتِ، إِذْ لَيْسَ لَنَا أَنْ نَتَصَرَّفَ فِي ثَوَابِ الْأَعْمَالِ بِالْهِبَاتِ، كَمَا نَتَصَرَّفُ فِي الْأَمْوَالِ بِالتَّبَرُّعَاتِ
“Adapun pahala bacaan (Al-Quran) hanya sampai pada pembaca saja. Tidak akan sampai kepada orang lain. Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Tidaklah bagi manusia selain (dari) apa-apa yang telah ia usahakan.” (An-Najm: 39). Begitu juga firman-Nya, “Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya...” (Al-Baqarah: 286). Dan firman-Nya, “Jika kalian berbuat baik, (berarti) kalian telah berbuat baik untuk diri kalian sendiri. Jika kalian berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada kalian sendiri...” (Al-Isra: 7). Allah menjadikan ganjaran perbuatan itu kepada pelakunya, maka siapa saja yang menjadikan ganjaran itu kepada selain pelakunya, maka dia telah menyelisihi lahiriyah ayat tersebut tanpa dalil syar’i pun. Barangsiapa yang menjadikan pahala bacaan kepada mayit, maka dia telah menyelisihi firman Allah, “Tidaklah bagi manusia selain (dari) apa-apa yang telah ia usahakan.” (An-Najm: 39). Kaena sejatinya bacaan itu tidak berasal dari perbuatan si mayit.
Demikian juga, Allah menjadikan amal shalih untuk pelakunya sendiri, berdasarkan firman-Nya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, maka itu untuk dirinya sendiri...” (Fusshilat: 46). Maka siapa yang menjadikan sedikit saja dari amal shaleh kepada selain orang yang melakukannya, maka dia telah menyelisihi wahyu yang benar (Al-Quran). Anehnya, sebagian manusia ada yang menetapkan sah halnya tersebut berdasarkan mimpi-mimpi. Padahal mimpi bukanlah hujjah dalam syariat untuk menetapkan hukum. Bisa jadi orang yang dilihat itu dalam mimpi itu berasal dari jelmaan setan atau tipu dayanya. Tidak boleh sedikit pun menghadiahkan bacaan (Al-Quran) maupun ibadah lainnya. Karena tidak boleh bagi kita mentransaksikan pahala amal shaleh dengan cara hibah, sebagaimana kita mentransaksikan harta dengan tujuan sosial...” (Fatawa Al-‘Izz bin Abdis Salam: 95-97)
Imam Ibnu Abdis Salam bukan hanya menafikan mengirim pahala bacaan kepada mayit. Tetapi juga mengecam, melarang, dan membantahnya serta menepis pendapat orang-orang yang memperbolehkannya dengan dalih mimpi. Hal yang mirip juga ditegaskan oleh As-Suyuthi dari kalangan mutaakkhirin Syafiiyah. As-Suyuthi mengatakan dalam Fatwanya,
فَإِنَّ الْقِرَاءَةَ لَا يَجُوزُ الِاسْتِئْجَارُ عَلَيْهَا؛ لِأَنَّ مَنْفَعَتَهَا لَا تَعُودُ لِلْمُسْتَأْجِرِ لِمَا تَقَرَّرُ فِي مَذْهَبِنَا مِنْ أَنَّ ثَوَابَ الْقِرَاءَةِ لِلْقَارِئِ لَا لِلْمَقْرُوءِ لَهُ، وَتَجُوزُ الْجَعَالَةُ عَلَيْهَا إِنْ شَرَطَ الدُّعَاءَ بَعْدَهَا وَإِلَّا فَلَا، وَتَكُونُ الْجَعَالَةُ عَلَى الدُّعَاءِ لَا عَلَى الْقِرَاءَةِ
“Karena bacaan (Al-Quran) tidak melakukan penyewaan atasnya (upah atas pembacaan Al-Quran). Sebab, manfaatnya tidak kembali ke si penyewa berdasarkan pakem dalam madzhab kita (madzhab Syafii) bahwa pahala bacaan milik si pembaca bukan untuk orang yang dibaca. Namun boleh melakukan ja’alah[4] atas bacaan jika ada persyaratan doa setelah bacaan itu. Jika tidak ada (persyaratan), maka tidak boleh, sehingga ja’alah itu hakikatnya atas doa, bukan atas bacaan.” (Al-Hawi Al-Fatawi 1/150)
Apa yang disampaikan oleh Al-Hafizh As-Suyuthi di atas benar adanya. Sebab, Ar-Rafii juga secara tegas menafikan tidak sampai bagi mayit. Imam Ar-Rafi’i mengatakan dalam bab wasiat mengenai wasiat agar mengirimkan bacaan Al-Quran untuk mayit.
وَأَمَّا غَيْرُ الصَّوْمِ كَالصَّلَاةِ عَنْهُ قَضَاءً أَوْ غَيْرِ قَضَاءٍ وَقِرَاءَةِ الْقِرَانِ عَنْهُ، فَلَا يَنْفَعُهُ
“Adapun (wasiat) selain puasa, seperti shalat untuknya baik dengan niat qadha atau lainnya dan membaca Al-Quran untuknya, maka hal itu tidak bermanfaat baginya (mayit).” (Asy-Syarh Al-Kabir 7/131)
Maka jadilah ini seperti kesepakatan antara An-Nawawi dan Ar-Rafi’i, di samping kemasyhurannya di kalangan madzhab Syafii. Ini semakin dikuatkan dengan sikap An-Nawawi yang tidak mengomentari apa pun ucapan Ar-Rafii ini dalam Ar-Raudhah[5]. Tentunya apa yang disepakati oleh Ar-Rafi’i dan An-Nawawi merupakan pendapat yang rajih dalam madzhab, sebagaimana kaidah tarjih yang berlaku dalam madzhab Syafii.
Baca: Shalat Berjamaah Dalam Madzhab Syafii
Catatan Penting
Kemasyhuran yang ditegaskan oleh Imam An-Nawawi benar adanya. Sebab, para ulama Syafiiyah yang men-syarah riwayat Al-Muzani di atas dari Asy-Syafii seperti Imam Haramain, Asy-Syirazi, Al-Mawardi, Al-Baghawi, Al-Imrani, hingga Ar-Ruyyani tidak sedikit pun membahas mengenai mengirim pahala bacaan secara khusus. Demikian juga Abu Zur’ah dari kalangan mutaakkhirin dalam Tahrir Al-Fatawa maupun Al-Bulqini dalam At-Tadrib. Termasuk Al-Isnawi, seorang ulama Syafiiyah yang terkenal paling kritis terhadap Ar-Rafii dan An-Nawawi, sedikit pun tidak ada mengingkari mengenai nukilan masyhurnya ketidak sampaian pahala bacaan kepada mayit dalam madzhab Syafii yang telah dinukil dan ditegaskan oleh Ar-Rafi’i dan An-Nawawi.
Hanya saja Al-Mawardi menyinggung sedikit tentang membaca Al-Quran di dekat kubur dan ini diikuti oleh Ar-Ruyyani.[6] Imam Al-Mawardi mengatakan,
فإذا تَقَرَّرَ مَا وَصَفْنَا مِنْ عَوْدِ الثَّوَابِ إِلَى الْمَيِّتِ بِفِعْلِ غَيْرِهِ، فَمَا يُفْعَلُ عَنْهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَقْسَامٍ أَحَدُهَا: مَا يَجُوزُ أَنْ يُفْعَلَ عَنْهُ بِأَمْرِهِ وَغَيْرِ أَمْرِهِ وَذَلِكَ قَضَاءُ الدُّيُونِ وَأَدَاءُ الزَّكَاةِ وَفِعْلُ مَا وَجَبَ مِنْ حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ وَالدُّعَاءُ لَهُ وَالْقِرَاءَةُ عِنْدَ قَبْرِهِ
“Apabila telah jelas apa yang telah kami sifatkan mengenai sampainya pahala ke mayit akibat perbuatan orang lain untuknya, maka jenis amal yang dilakukan untuknya terbagi menjadi 4 pembagian. Pertama, amal yang boleh dilakukan orang lain untuknya terlepas karena perintahnya atau tanpa perintahnya, yaitu membayar hutangnya, menunaikan zakatnya, melakukan apa-apa yang wajib dalam haji dan umrah (untuknya), mendoakannya, dan membaca (Al-Quran) di dekat kuburannya.” (Al-Hawi Al-Kabir 8/299-300)
Tidak disebutkan sedikit pun mengenai mengirimkan pahala bacaan kepada mayit. Adapun mengenai membaca Al-Quran di kuburan mayit, maka itu berbeda kasus dengan masalah mengirim pahala bacaan kepada mayit. Karena membaca Al-Quran di kubur dengan maksud agar turunnya rahmat dan berkah kepada mayit ketika Al-Quran dibacakan, bukan karena mengirim bacaan kepadanya. Ini mirip dengan ruqyah. Atau digunakan sebagai doa, sedangkan pahalanya tetap untuk si pembaca Al-Quran dan pahala itu diberikan kepada mayit melalui doa.
Dalam Ar-Raudhah dengan terang benderang disebutkan,
وَمَعْلُومٌ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَلْحَقُهُ ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ الْمُجَرَّدَةِ، فَالْوَجْهُ: تَنْزِيلُ الِاسْتِئْجَارِ عَلَى صُورَةِ انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِالْقِرَاءَةِ وَذَكَرُوا لَهُ طَرِيقَيْنِ أَحَدُهُمَا: أَنْ يُعْقِبَ الْقِرَاءَةَ بِالدُّعَاءِ لِلْمَيِّتِ، لِأَنَّ الدُّعَاءَ يَلْحَقُهُ وَالدُّعَاءُ بَعْدَ الْقِرَاءَةِ أَقْرَبُ إِجَابَةً وَأَكْثَرُ بَرَكَةً، وَالثَّانِي: ذَكَرَ الشَّيْخُ عَبْدُ الْكَرِيمِ السَّالُوسِيُّ، أَنَّهُ إِنْ نَوَى الْقَارِئُ بِقِرَاءَتِهِ أَنْ يَكُونَ ثَوَابُهَا لِلْمَيِّتِ لَمْ يَلْحَقْهُ، وَإِنْ قَرَأَ ثُمَّ جَعَلَ مَا حَصَلَ مِنَ الْأَجْرِ لَهُ، فَهَذَا دُعَاءٌ بِحُصُولِ ذَلِكَ الْأَجْرِ لِلْمَيِّتِ فَيَنْفَعُ الْمَيِّتَ.
قُلْتُ: ظَاهِرُ كَلَامِ الْقَاضِي حُسَيْنٍ: صِحَّةُ الْإِجَارَةِ مُطْلَقًا وَهُوَ الْمُخْتَارُ، فَإِنَّ مَوْضِعَ الْقِرَاءَةِ مَوْضِعُ بَرَكَةٍ وَبِهِ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ، وَهَذَا مَقْصُودٌ يَنْفَعُ الْمَيِّتَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“Telah maklum (diketahui) bahwa tidak akan sampai kepada mayit pahala bacaan yang hanya diniatkan saja. Maka wajh-nya berkonsekwensi pada bagaimana cara mayit mendapatkan manfaat dari bacaan Al-Quran. Mereka (ulama Syafiiyah) menyebutkan 2 cara. Pertama, bacaan Al-Quran harus dilanjut dengan doa untuk mayit. Karena doa akan sampai kepadanya dan doa setelah membaca (Al-Quran) lebih dekat untuk dikabulkan dan lebih banyak berkahnya. Kedua, Asy-Syaikh Abdul Karim As-Salusi mengatakan, “Jika si pembaca meniatkan bacaannya agar pahala dari bacaan itu untuk si mayit, pahala itu tidak akan sampai pada mayit. Namun jika ia membaca (Al-Quran), lalu menjadikan pahala yang ia dapatkan untuk si mayit, maka ini adalah doa dengan menjadikan perolehan pahala itu untuk mayit, maka akan bermanfaat untuk mayit.
Aku (An-Nawawi) katakan, lahiriyah ucapan Qadhi Husain mengenai sahnya sewa jasa secara mutlak (untuk membacakan Al-Quran di kuburan mayit) inilah yang menjadi pilihan. Sebab, tempat dijadikannya bacaan Al-Quran adalah tempat yang berkah dan turunnya rahmat. Ini maksud dari memberi manfaat kepada mayit.” (Raudhah At-Thalibin 5/191)
Ibarah dalam Ar-Raudhah mengenai Syaikh As-Salusi ini diperjelas lagi secara murni oleh Al-Isnawi dengan menukil fatwa As-Salusi (Al-Isnawi meluruskannya dengan menyebutnya Asy-Syalusi). Imam Al-Isnawi mengatakan,
قَالَ مَا نَصُّهُ: قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ دُوَيرُ الكَرَخِي سَمِعْتُ شَيْخِي عَبْدِ الْكَرِيمِ الشَّالُوسِي يَقُولُ: "إِنَّ الْقَارِئَ إِنْ نَوَى بِقَرَاءَتِهِ أَنْ يَكُونَ ثَوَابُهَا لِلْمَيِّتِ لَمْ تُلْحِقْهُ، إِذْ جَعَلَ لَهُ قُبَيْلَ حُصُولِهِ، وَتلِاوَتُهُ عِبَادَةُ الْبَدَنِ فَلَا تَقَعُ عَنِ الْغَيْرِ، وَإِنْ قَرَأَ ثُمَّ جَعَلَ مَا حَصَلَ مِنَ الثَّوَابِ لِلْمَيِّتِ يَبْلُغْهُ، إِذْ قَدْ جَعَلَ مَا حَصَلَ مِنَ الْأَجْرِ لِغَيْرِهِ، وَالْمَيِّتُ يُؤْجَرُ بِدُعَاءِ الْغَيْرِ" هَذَا كَلَامُهُ
“Beliau (Al-Hanathi) mengatakan dengan nash sebagai berikut, “Syaikh Al-Imam Duwair Al-Karkhi mengatakan, “Aku mendengar syaikh-ku Abdul Karim Asy-Syalusi mengatakan, “Jika si pembaca meniatkan bacaannya agar pahala dari bacaan itu untuk si mayit, pahala itu tidak akan sampai pada mayit. Karena dia menjadikan pahala itu sebelum ia mendapatkannya. Sebab, tilawah (Al-Quran) itu ibadah badan, maka tidak bisa digantikan oleh orang lain. Namun jika ia membaca (Al-Quran), lalu menjadikan pahala yang ia dapatkan untuk si mayit, maka akan sampai kepada si mayit. Karena ia telah menjadikan pahala yang telah ia dapat untuk orang lain. Mayit akan diberikan pahala melalui orang lain (kepadanya).” Ini nash ucapan beliau.” (Al-Muhimmat 6/145)
Inilah barangkali yang menjadikan Ibnu Shalah mengharuskan berdoa jika hendak memberikan pahala bacaan kepada mayit. Artinya, pemberian bacaan itu harus melalui doa, tidak semata mengandalkan niat. Tetapi harus mendahulukan bacaan Al-Quran tersebut, lalu berdoa untuk mayit agar pahala bacaannya disampaikan kepada mayit. Ibnu Shalah menjawab ketika ditanya mengenai seseorang yang membaca Al-Quran, lalu menghadiahkan pahala bacaannya kepada kedua orang tuanya, kaum kerabatnya, dan kaum muslimin secara umum. Imam Ibnu Shalah mengatakan,
أَمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فَفِيهِ خِلَافٌ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ وَالَّذِي عَلَيْهِ عَمَلُ أَكْثَرِ النَّاسِ تَجْوِيزُ ذَلِكَ وَيَنْبَغِي أَنْ يَقُولَ إِذَا أَرَادَ ذَلِكَ اللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْتَهُ لفُلَانٍ وَلِمَنْ يُرِيدُ فَيَجْعَلْهُ دُعَاءً
“Adapun mengenai bacaan Al-Quran, maka dalam hal ini ada perselisihan di antara ahli fikih. Yang diamalkan oleh kebanyakan orang adalah bolehnya hal itu. Tetapi seyogyanya ia mengatakan jika hendak melakukan hal itu (mengirim bacaan), “Ya Allah, sampaikan pahala bacaan (Al-Quran) yang telah aku baca ini kepada si fulan.” Bagi siapa saja yang menginginkannya, maka hendaklah ia menjadikannya sebagai doa.” (Fatawa Ibnu Shalah 1/192)
Imam An-Nawawi dan Mengirim Pahala Bacaan Kepada Mayit
Pentingnya Imam An-Nawawi dalam hal ini menimbang kedudukan beliau sebagai mujtahid madzhab yang tarjih beliau pada madzhab Syafii umumnya dijadikan rujukan oleh para ulama Syafiiyah setelahnya. Beliau yang menegaskan secara luas kemayshuran tidak sampainya pahala bacaan yang dikirimkan kepada mayit dalam madzhab Syafii. Beliau menegaskan hal itu dalam 3 kitab beliau. Tentunya beliau juga didahului oleh Imam Ar-Rafi’i dalam hal ini.
Imam An-Nawawi juga bukan hanya menegaskan kemasyhurannya. Namun juga membantah berbagai pandangan yang menyatakan sampainya pahala amal shaleh seperti shalat dan lainnya (termasuk bacaan Al-Quran). Beliau mengatakan,
وَذَهَبَ جَمَاعَاتٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ إِلَى أَنَّهُ يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ ثَوَابُ جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّوْمِ وَالْقِرَاءَةِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَفِي صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ فِي بَابِ مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ نَذْرٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَمَرَ مَنْ مَاتَتْ أُمُّهَا وَعَلَيْهَا صَلَاةٌ أَنْ تُصَلِّيَ عَنْهَا وَحَكَى صَاحِبُ الْحَاوِي عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ أَنَّهُمَا قَالَا بِجَوَازِ الصَّلَاةِ عَنِ الْمَيِّتِ وَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو سَعْدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ هِبَةِ اللَّهِ بْنِ أَبِي عَصْرُونَ مِنْ أَصْحَابِنَا الْمُتَأَخِّرِينَ فِي كِتَابِهِ الِانْتِصَارُ إِلَى اخْتِيَارِ هَذَا وَقَالَ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْبَغَوِيُّ مِنْ أَصْحَابِنَا فِي كِتَابِهِ التَّهْذِيبُ لَا يَبْعُدُ أَنْ يُطْعَمَ عَنْ كُلِّ صَلَاةٍ مُدٌّ مِنْ طَعَامٍ وَكُلُّ هَذِهِ الْمَذَاهِبِ ضَعِيفَةٌ وَدَلِيلُهُمُ الْقِيَاسُ عَلَى الدُّعَاءِ وَالصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ فَإِنَّهَا تَصِلُ بِالْإِجْمَاعِ
“Beberapa kelompok ulama berpendapat bahwa pahala seluruh ibadah seperti shalat, puasa, dan bacaan (Al-Quran) serta lainnya bisa sampai kepada mayit. Dalam Shahih Al-Bukhari, pada Bab “Man Mata wa ‘alaihi nadzru”, bahwa Ibnu Umar memerintahkan orang yang ibunya wafat dalam keadaan ada tanggungan shalat, maka shalatnya harus digantikan. Pengarang kitab Al-Hawi menghikayatkan dari Atha bin Abi Rabah dan Ishaq bin Rahawaih bahwa keduanya berpendapat bolehnya melaksanakan atas nama mayit. Sementara Syaikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi ‘Ashrun dari kalangan madzhab kami belakangan dalam kitabnya Al-Intishar juga memilih pendapat itu. Imam Abu Muhammad Al-Baghawi dari kalangan madzhab kami berkata dalam kitabnya At-Tahdzib, “Tidak mengapa memberi makan 1 mud untuk mengganti per satu shalat.” Namun semua pendapat ini lemah. Dalil mereka hanyalah qiyas terhadap doa, sedekah, dan haji, padahal ketiga hal itu sampai berdasarkan ijma.” (Syarh Shahih Muslim 1/90)
Tidak sampai di sini, bahkan Imam An-Nawawi hanya membatasi sampainya doa dan sedekah saja kepada mayit. Beliau mengatakan,
وَتَنْفَعُ الْمَيِّتَ صَدَقَةٌ وَدُعَاءٌ مِنْ وَارِثٍ وَأَجْنَبِيٍّ
“Dan bermanfaat bagi mayit sedekah dan doa yang diberikan oleh ahli waris atau orang asing.” (Minhaj At-Thalibin: 193)
Ucapan Imam Nawawi ini juga dirasakan oleh para pen-syarah kitab Minhaj At-Thalibin seperti Al-Haytami, Jamal Ar-Ramli, dan Asy-Syarbini.[7] Al-Allamah Jamal Ar-Ramli mengatakan,
وَأُفْهَمَ كَلَامُ الْمُصَنِّفِ أَنَّهُ لَا يَنْفَعُهُ سِوَى ذَلِكَ مِنْ بَقِيَّةِ الْعِبَادَاتِ وَلَوْ قِرَاءَةً
“Yang difahami dari ucapan penyusun (An-Nawawi) itu adalah tidak bermanfaat ibadah-ibadah lainnya bagi mayit meski bacaan (Al-Quran), selain dari hal itu (doa dan sedekah).” (Nihayah Al-Muhtaj 6/93)
Secara tegas Al-Allamah Asy-Syarbini mengatakan,
كَلَامُ الْمُصَنِّفِ قَدْ يُفْهِمُ أَنَّهُ لَا يَنْفَعُهُ ثَوَابٌ غَيْرُ ذَلِكَ كَالصَّلَاةِ عَنْهُ قَضَاءً أَوْ غَيْرِهَا وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَهَا هُوَ الْمَشْهُورُ عِنْدَنَا
“Ucapan penyusun (An-Nawawi) memberi pemahaman bahwa tidak bermanfaat bagi mayit pahala selain itu seperti shalat yang diniatkan untuknya seperti qadha atau yang lainnya. Begitu juga bacaan Al-Quran. Inilah yang masyhur menurut (madzhab) kami.” (Mughni Al-Muhtaj 4/110)
Meski demikian, Imam An-Nawawi juga mengatakan dalam kitab yang lain mengikuti arahan Ibnu Shalah khusus mengenai doa,
وَاخْتَلَفَ الْعُلَمَاءُ فِي وُصُولِ ثَوَابِ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، فَالْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَجَمَاعَةٌ أَنَّهُ لَا يَصِلُ، وَذَهَبَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ وَجَمَاعةٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ وَجَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ إِلَى أَنَّهُ يَصِلُ فَالِاخْتِيَارُ أَنْ يَقُولَ الْقَارِئُ بَعْدَ فِرَاغِهِ: اللَّهُمَّ أَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْتُهُ إِلَى فُلَانٍ
“Para ulama berbeda pendapat mengenai sampainya pahala bacaan Al-Quran. Maka pendapat yang masyhur dari madzhab Syafii dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun Ahmad, sekelompok ulama, dan sekelompok penganut madzhab Syafii berpendapat sampai. Maka yang terpilih adalah hendaknya pembaca Al-Quran mengatakan setelah selesai membaca (Al-Quran), “Ya Allah, sampaikanlah pahala bacaanku ini kepada si fulan.” (Al-Adzkar: 1/165)
Kesimpulan Pertama
Pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii dan Imam Syafii sendiri adalah tidak sampainya pahala bacaan yang dikirimkan kepada mayit. Apatah lagi pahala amal-amal shaleh lainnya selain sedekah, haji, dan doa. Penukilan kemasyhuran ini disepakati oleh 2 imam besar madzhab Syafii, yaitu Imam Abu Al-Qasim Ar-Rafii dan Imam Abu Zakariya An-Nawawi.
Pendapat Lain Dalam Madzhab Syafii
Meski demikian, terdapat sebagian syafiiyah yang menyatakan sampainya pahala bacaan Al-Quran kepada mayit dan ini juga dinukil oleh An-Nawawi sebagaimana di atas. Hingga mutaakkhirin Syafiiyah menegaskan bahwa ini adalah wajh dalam madzhab Syafii. Imam Ad-Damiri mengatakan,
اشْتُهِرَ عَنِ الشَّافِعِيِّ وَمَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ لَا تَصِلُ لِلْمَيِّتِ، وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ وَأَحْمَدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهَا تَصِلُ وَهُوَ وَجْهٌ عِنْدَنَا حَكَاهُ فِي الْأَذْكَارُ وَ شَرْحِ مُسْلِمٍ فِي بَابِ النَّهْيِ عَنِ الرِّوَايَةِ عَنِ الضُّعَفَاءِ، وَاخْتَارَهُ ابْنُ أَبِي عَصْرُونَ فِي الْاِنْتِصَارُ وَصَاحِبُ الذَّخَائِرُ وَابْنُ أَبِي الدَّمِ وَابْنُ الصَّلَاحِ وَالْمُحِبُّ الطَّبَرِيُّ، وَعَلَيْهِ عَمَلُ النَّاسِ سَلَفًا وَخَلَفًا
“Telah masyhur dari Asy-Syafii dan Malik semoga Allah meridhai keduanya bahwa bacaan Al-Quran pahalanya tidak sampai kepada mayit. Sementara menurut Abu Hanifah dan Ahmad semoga Allah meridhai keduanya berpendapat bahwa pahala bacaannya sampai dan ini merupakan wajh menurut (madzhab) kami (Syafiiyah), berdasarkan penukilan beliau (An-Nawawi) dalam Al-Adzkar dan Syarh Shahih Muslim dalam bab An-Nahyu ‘an Ar-Riwayah ‘an Ad-Dhu’afa. Ini juga yang dipilih oleh Ibnu Abi ‘Ashrun dalam Al-Intishar, pengarang Ad-Dzakhair, Ibnu Abi Ad-Dam, Ibnu Shalah, dan Muhib At-Thabari. Ini juga yang diamalkan oleh umat Islam baik dari sejak zaman salaf maupun khalaf.” (An-Najm Al-Wahhaj 6/313)
Pendapat lain ini (wajh) ternyata diminati oleh ulama Syafiiyah mutaakkhirin dan cenderung memilihnya, di antaranya adalah Ad-Damiri sendiri[8] dan ini pendapat yang dianggap muktamad oleh As-Subki.[9] Tidak hanya itu, ada juga yang menakwil masyhurnya “ketidak sampaian pahala bacaan Al-Quran pada mayit” sebagaimana yang dilakukan oleh Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshari,
وَمَا قَالَهُ مِنْ مَشْهُورِ الْمَذْهَبِ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إذَا قَرَأَ لَا بِحَضْرَةِ الْمَيِّتِ وَلَمْ يَنْوِ ثَوَابَ قِرَاءَتِهِ لَهُ أَوْ نَوَاهُ وَلَمْ يَدْعُ بَلْ قَالَ السُّبْكِيُّ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ الْخَبَرُ بِالِاسْتِنْبَاطِ أَنَّ بَعْضَ الْقُرْآنِ إذَا قُصِدَ بِهِ نَفْعُ الْمَيِّتِ نَفَعَهُ
“Perkataannya (An-Nawawi) mengenai kemasyhuran madzhab (dalam hal mengirim bacaan), dibawa kepada makna jika Al-Quran itu dibaca tidak didekat mayit, tidak meniatkan pahala bacaan tersebut untuk mayit atau dia meniatkannya namun tidak mengirinya dengan doa. Bahkan As-Subki mengatakan bahwa riwayat-riwayat tersebut jika di-istinbath akan menjadi dalil bahwa sebagian ayat Al-Quran jika diniatkan untuk memberi manfaat kepada mayit, maka akan bermanfaat untuknya.” (Fath Al-Wahhab 2/23)
Hanya saja jika dicermati secara seksama, pendapat sampainya pahala bacaan jika diniatkan sebagaimana dalam wajh yang dianggap muktamad oleh As-Subki tersebut sedikit bertentangan dengan penakwilan yang dilakukan oleh Zakariya Al-Anshari. Ini disadari oleh Al-Bujairimi. Al-Allamah Al-Bujairimi mengatakan,
يَصِلُ ثَوَابُ الْقِرَاءَةِ لِلْمَيِّتِ إذَا وُجِدَ وَاحِدٌ مِنْ ثَلَاثَةِ أُمُورٍ الْقِرَاءَةُ عِنْدَ قَبْرِهِ وَالدُّعَاءُ لَهُ عَقِبَهَا وَنِيَّتُهُ حُصُولُ الثَّوَابِ لَهُ وَهُوَ قَضِيَّةُ مَا اسْتَنْبَطَهُ السُّبْكِيُّ مِنْ الْخَبَرِ وَإِنْ كَانَ ظَاهِرُ كَلَامِ شَيْخِ الْإِسْلَامِ هُنَا خِلَافَهُ فِي الْأَخِيرِ، أَيْ حَيْثُ قَالَ: أَوْ نَوَاهُ وَلَمْ يَدْعُ لَهُ سم ع ش فَإِنَّهُ يُفِيدُ أَنَّهُ لَا بُدَّ مِنْ الْجَمْعِ بَيْنَ النِّيَّةِ وَالدُّعَاءِ
“Pahala bacaan (Al-Quran) untuk mayit akan sampai jika didapati salah satu dari 3 perkara ini, yaitu bacaan Al-Quran dilakukan di dekat kubur, mendoakannya (si mayit) setelahnya, dan meniatkan sampainya pahala tersebut. Ini adalah pendapat yang disimpulkan oleh As-Subki dari dalil, meskipun lahiriyah ucapan Syaikhul Islam di sini bertentangan dengan pendapat tersebut di bagian akhirnya, yakni pada ucapan beliau, “dia meniatkannya namun tidak mengirinya dengan doa.” Perkataan beliau ini menjelaskan wajibnya menggabungkan antara niat dengan doa.” (At-Tajrid li Naf’i Al-‘Abid 3/286)
Tentunya pendapat lain (wajh) yang menyebut sampainya pahala bacaan Al-Quran kepada mayit dilemahkan secara lugas oleh Imam An-Nawawi sendiri dalam Syarh Shahih Muslim sebagaimana di atas. Bukan hanya dilemahkan, beliau juga membantahnya dengan dalil dari Al-Quran dan Sunnah.
Kesimpulan Kedua
Jika diperhatikan secara mendalam berbagai pandangan ulama Syafiiyah di atas, hakikatnya secara umum madzhab Syafii terbagi menjadi 3 pendapat dalam masalah mengirim pahala bacaan Al-Quran kepada mayit:
Pertama, tidak sampai sama sekali secara mutlak dan hanya sampai pada pembaca saja. Ini adalah lahiriyah pendapat Imam Asy-Syafii’ sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibnu Syihab Ar-Ramli[10], dan sebagian Syafiiyah mutaqaddimin seperti Al-Baghawi, Al-Imrani, dan Ibnu Abdis Salam, serta sebagian mutaakkhirin Syafiiyah seperti Ibnu Katsir.
Kedua, sampai pahalanya jika bacaan Al-Quran tersebut setelah dibaca diiringi doa agar pahalanya diberikan kepada si mayit. Jika hanya sekedar niat tanpa doa, maka tidak sampai. Ini yang dicenderungi oleh Ibnu Shalah dan dipilih oleh Asy-Syalusyi dari mutaqaddimin Syafiiyah, Ar-Rafi’i dan An-Nawawi sebagai mujtahid madzhab, dan lahiriyah penjelasan Zakariya Al-Anshari, serta As-Suyuthi dan Ibnu Hajar Al-Haytami dalam Fatwa-nya[11] dari kalangan mutaakkhirin.
Ketiga, sampai pahalanya secara mutlak selama pahala bacaan Al-Quran itu diniatkan untuk si mayit. Ini yang dipilih oleh Ibnu Abi ‘Ashrun, Ibnu Abi Ad-Dam, Muhib AtThabari dan lainnya dari kalangan Syafiiyah mutaqaddimin, dicenderungi oleh Ad-Damiri, dipilih oleh As-Subki dan mayoritas mutaakkhirin Syafiiyah setelahnya. Akan datang penjelasannya.
Pendapat Yang Muktamad
Setelah pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa asalnya yang masyhur dalam madzhab Syafii adalah tidak sampainya pahala bacaan yang dikirimkan kepada mayit. Jika mengikuti kaidah madzhab, maka seharusnya inilah yang muktamad, menimbang sepakatnya Ar-Rafii dan An-Nawawi menukil pendapat ini dari Imam Asy-Syafii dan madzhab Syafii.
Atau sampainya pahala bacaan Al-Quran jika pahala bacaan tersebut diberikan dengan bentuk doa setelah membaca Al-Quran, bukan sekedar niat saja. Tentunya jika doa itu dikabulkan oleh Allah, menimbang An-Nawawi dan Ar-Rafii juga sepakat atas hal ini, dengan menjadikan fatwa Asy-Syalusi dan Ibnu Shalah sebagai penguatnya. Namun kenyataannya tidak difahami demikian oleh mayoritas ulama mutaakkhirin Syafiiyah setelah keduanya.
Justru yang diklaim sebagai pendapat yang muktamad oleh Syafiiyah mutaakkhirin hingga sekarang adalah pendapat sampainya pahala bacaan Al-Quran yang diniatkan untuk mayit secara mutlak. Pastinya ini sangat bertentangan dengan pendapat Imam Asy-Syafii sendiri maupun pendapat yang disepakati oleh Imam Ar-Rafi’i dan Imam An-Nawawi sebagaimana penjelasan di atas. Al-Allamah Asy-Syarbini mengatakan,
الْمُعْتَمَدُ أَنَّهُ إذَا قَرَأَ وَنَوَى الْمَيِّتَ حَالَ قِرَاءَتِهِ حَصَلَ ثَوَابُهَا لَهُ، وَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَحْصُلُ مِثْلُ ثَوَابِ الْقَارِئِ لِلْمَيِّتِ إنْ كَانَتْ الْقِرَاءَةُ بِحَضْرَتِهِ أَوْ بِنِيَّتِهِ أَوْ بِالدُّعَاءِ يَحْصُلُ ثَوَابُهَا لَهُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ
“Yang muktamad adalah jika dia membaca dan meniatkan untuk mayit (pahalanya) ketika membacanya, maka akan sampai pahalanya kepadanya. Kesimpulannya, akan sampai pahalanya kepada mayit sebagaimana pahala si pembaca jika bacaan itu dilakukan di dekat mayit atau meniatkannya atau dengan mendoakan agar sampai pahalanya menurut yang muktamad.” (Hasyiyah As-Syarbini ‘ala Al-Gharar Al-Bahiyyah 4/34).
Hal yang sama juga ditegaskan para ulama Syafiiyah mutaakkhirin seperti Al-Qalyubi dan Al-Jamal.[12] Sementara sebagiannya lagi seperti Al-Bujairimi dan Al-Bakri menyebutkan bahwa pendapat Imam Asy-Syafii mengenai tidak sampainya kiriman pahala bacaan Al-Quran terhadap mayit adalah pendapat yang lemah[13]. Al-Allamah Al-Bujairimi mengatakan,
(قَوْلُهُ: أَنَّهُ لَا يَصِلُ ثَوَابُهَا) ضَعِيفٌ وَقَوْلُهُ: وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَصِلُ مُعْتَمَدٌ
“(Ucapannya, “bahwa tidak sampai pahalanya”) pendapat yang lemah. Ucapannya, “Sebagian penganut madzhab kami berpendapat sampai” adalah muktamad.” (Hasyiyah Al-Bujairimi ‘ala Syarh Al-Minhaj 3/286)
Artinya, para ulama mutaakkhirin Syafiiyah dalam hal ini 180 derajat menyelisihi pendapat yang masyhur dan bahkan muktamad yang dianut oleh para ulama mutaqaddimin Syafiiyah sebelumnya –termasuk pendapat An-Nawawi dan Ar-Rafi’i-, yakni tidak sampainya kiriman pahala bacaan Al-Quran atas mayit. Ini diisyaratkan oleh Al-Haytami ketika ditanyai mengenai anjuran membaca surat yasin di dekat orang yang akan wafat (bukan setelah wafat) menurut para ulama Syafiiyah era awal. maka Al-Allamah Al-Haytami menjawab,
قَوْلُهُمْ الْمَيِّتُ لَا يُقْرَأُ عَلَيْهِ مَبْنِيٌّ عَلَى مَا أَطْلَقَهُ الْمُتَقَدِّمُونَ مِنْ أَنَّ الْقِرَاءَةَ لَا تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ لِأَنَّ ثَوَابَهَا لِلْقَارِئِ وَالثَّوَابُ الْمُتَرَتِّبُ عَلَى عَمَلٍ لَا يُنْقَلُ عَنْ عَامِلِ ذَلِكَ الْعَمَلِ قَالَ تَعَالَى {وَأَنْ لَيْسَ لِلإِنْسَانِ إِلا مَا سَعَى} [النجم: 39] وَوُصُولُ الدُّعَاءِ وَالصَّدَقَةِ وَرَدَ بِهِمَا النَّصُّ فَلَا يُقَاسُ عَلَيْهِمَا إذْ لَا مَجَالَ لِلْقِيَاسِ فِي ذَلِكَ فَاتَّجَهَ قَوْلُهُمْ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يُقْرَأُ عَلَيْهِ لِمَا ذَكَرْته وَلَمَّا كَانَ الْمُتَأَخِّرُونَ يَرَوْنَ وُصُولَ الْقِرَاءَةِ لِلْمَيِّتِ عَلَى تَفْصِيلٍ فِيهِ مُقَرَّرٍ فِي مَحَلِّهِ أَخَذَ ابْنُ الرِّفْعَةِ كَغَيْرِهِ بِظَاهِرِ الْخَبَرِ مِنْ أَنَّهَا تُقْرَأُ عَلَيْهِ بَعْدَ مَوْتِهِ
“Ucapan mereka (Syafiiyah era awal) bahwa tidak dibacakannya Al-Quran pada mayit, didasarkan atas pendapat yang dianut oleh ulama mutaqaddimin bahwa pahala bacaan tidak sampai kepada mayit. Sebab, pahalanya hanya kembali kepada si pembaca. Pahala diperoleh karena sebuah amal yang tidak bisa dipindahkan oleh pelaku amal itu sendiri. Allah Ta’ala berfirman, “Tidaklah bagi manusia selain (dari) apa-apa yang telah ia usahakan.” (An-Najm: 39). Sedangkan sampainya doa dan sedekah karena adanya nash atas hal itu, sehingga amalan lain tidak bisa dikiaskan dengan kedua amal tersebut. Sebab, tidak ada ruang qiyas dalam hal itu. Maka perkataan mereka itu berkonsekwensi bahwa mayit tidak boleh dibacakan Al-Quran sebagaimana yang telah aku jelaskan. Namun, ketika para ulama mutaakkhirin berpendapat sampainya pahala bacaan (Al-Quran) kepada mayit dengan perincian di dalamnya sebagaimana yang dijelaskan pada babnya secara khusus, maka Ibnu Rif’ah dan lainnya menggunakan pendapat itu sebagai dasar bolehnya membaca Al-Quran untuk mayit setelah ia wafat.” (Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra 2/26-27)
Dari penjelasan Ibnu Hajar Al-Haytami ini sangat jelas terlihat terdapatnya perbedaan pandangan dalam masalah ini (sampainya kiriman bacaan Al-Quran kepada mayit) antara mayoritas ulama mutaqaddimin (era awal) Syafiiyah -termasuk Ar-Rafii dan An-Nawawi- dengan mayoritas ulama mutaakkhirin (era belakangan) Syafiiyah. Terlebih jika kita bandingkan pendalilan Syafiiyah era awal yang dinukil oleh Al-Haytami di atas dengan bantahan yang diberikan oleh An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim terhadap pendapat yang menyatakan sampainya kiriman pahala bacaan Al-Quran kepada mayit. Kedua pendapat ini saling melemahkan satu sama lainnya. Para ulama mutaqaddimin melemahkan pendapat sampainya kiriman bacaan Al-Quran sebagaimana yang dilakukan oleh An-Nawawi, sedangkan yang mutaakkhirin melemahkan pendapat tidak sampainya kiriman bacaan Al-Quran sebagaimana yang dilakukan Al-Bujairimi. Wallahu a’lam
Kesimpulan Akhir
Pertama, pendapat yang masyhur dari Imam Asy-Syafii sendiri dan madzhab Syafii di era awal adalah tidak sampainya kiriman pahala bacaan Al-Quran kepada mayit.
Kedua, Imam An-Nawawi dan Imam Ar-Rafii sepakat atas pendapat yang masyhur tersebut. Namun memperbolehkan mengirim pahala dalam bentuk doa yang dilakukan setelah membaca, bukan hanya sekedar niat.
Ketiga, Pendapat sampainya pahala bacaan Al-Quran adalah pendapat yang lemah menurut mutaqaddimin Syafiiyah –termasuk menurut An-Nawawi-.
Keempat, Mayoritas ulama mutaakkhhirin Syafiiyah menyelisihi pendapat mayoritas mutaqaddimin Syafiiyah dalam masalah ini dan melemahkan pendapat Imam Asy-Syafii serta pendapat yang masyhur di kalangan madzhab Syafii era awal.
Kelima, Mayoritas mutaakkhirin Syafiiyah berpendapat sampainya kiriman pahala bacaan Al-Quran cukup dengan meniatkannya saja kepada mayit. Artinya, mereka mengikuti pendapat yang justru dilemahkan oleh ulama Syafiiyah mutaqaddimin.
Setelah pemaparan ini, maka tuduhan sesat terhadap orang yang mengingkari mengirim pahala bacaan Al-Quran kepada mayit adalah tuduhan yang tak berdasar. Karena malah akan menyasar Imam Asy-Syafii sendiri dan para ulama Syafiiyah era awal. Justru pendapat yang masyhur dari Imam Asy-Syafii dan madzhab Syafii sendiri di era awal adalah tidak sampainya kiriman pahala bacaan Al-Quran kepada mayit. Sebagian Syafiiyah mutaakhirin masih ada yang memegang teguh pendapat ini seperti Ibnu Katsir dan As-Suyuthi. Imam As-Suyuthi mengatakan,
اُخْتُلِفَ فِي وُصُولِ ثَوَابِ الْقِرَاءَةِ لِلْمَيِّتِ فَجُمْهُورُ السَّلَفِ وَالْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ عَلَى الْوُصُولِ وَخَالَفَ فِي ذَلِكَ إِمَامُنَا الشَّافِعِيُّ مُسْتَدِلًا بِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَأَن لَيْسَ للْإنْسَان إِلَّا مَا سَعَى}
“Diperselisihkan mengenai sampainya kiriman pahala bacaan (Al-Quran) kepada mayit. Maka mayoritas salaf dan ketiga imam berpendapat sampainya (pahala tersebut), namun imam kami Asy-Syafii menyelisihi pendapat tersebut dalam hal ini berdalilkan firman Allah Ta’ala, “Tidaklah bagi manusia selain (dari) apa-apa yang telah ia usahakan.” (An-Najm: 39).” (Syarh As-Shudur: 302) Wallahu a’lam bis shawab
Berkurban Atas Nama Orang Meninggal Tidak Sah Menurut Madzhab Syafii?
Ternyata Lutut Bukan Aurat (Menurut Syafiiyah)
[1] Ibnu Qadhi Syuhbah dalam Bidayah Al-Muhtaj 2/628 dan Amirah dalam Hasyiyah ‘Amirah ‘ala Kanz Ar-Raghibin 3/176
[2] An-Najm Al-Wahhaj 6/313
[3]Al-Baghawi dalam At-Tahdzib 5/114 dan Al-Imrani dalam Al-Bayan 8/315
[4] Ja’alah adalah menjadikan atau menspesifikkan tujuan doa kepada sesuatu atau seseorang.
[5] Raudhah At-Thalibin 6/203
[6] Al-Mawardi dalam Al-Hawi Al-Kabir 8/300 dan Ar-Ruyyani dalam Bahr Al-Madzhab 8/107
[7] Al-Haytami dalam Tuhfah Al-Muhtaj 7/73, Jamal Ar-Ramli dalam Nihayah Al-Muhtaj 6/93, Mughni Al-Muhtaj 4/110
[8] An-Najm Al-Wahhaj 6/313
[9] Dinukil oleh Al-Malibari dalam Fath Al-Mu’in 1/432
[10] Hasyiyah Ibnu Syihab Ar-Ramli ‘ala Asna Al-Muthalib 2/412
[11] Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra 2/9
[12] Hasyiyah Al-Qolyubi 3/176, Hasyiyah Al-Jamal 4/68
[13] Al-Bujairimi dalam At-Tajrid 3/286, Al-Bakri dalam I’anah At-Thalibin 3/258
Tidak ada komentar:
Posting Komentar