Di tengah banyaknya kebencian terhadap bangsa Arab, padahal bangsa Arab tidak pernah menjajah negeri ini atau “merampok”nya. Di saat Arab di kambing hitamkan oleh sebagian kalangan atas seluruh permasalahan di negeri ini padahal kenyataan permasalahan justru diakibatkan oleh perilaku pejabat dan aparatnya. Ketika Arab selalu diidentikkan dengan berbagai perkara negatif di negeri ini, padahal Arab tidak tahu menahu akan hal itu. Tatkala Arab dicela dan dilecehkan oleh orang-orang yang sejatinya memang benci terhadap Islam dan ajarannya. Maka umat Islam yang lurus imannya dan sehat akalnya tidak akan terpengaruh dengan hal itu seluruhnya. Bagaimana pun jua Arab dengan Islam tidak bisa dipisahkan meski bukan berarti ajaran Islam berasal dari budaya Arab. Sebab, Allah telah memilih Nabi akhir zaman dari kalangan bangsa Arab dan menghendaki wahyu yang diturunkan-Nya untuk pedoman bagi seluruh manusia menggunakan bahasa Arab. Dengan wahyu itu, Allah memperbaiki keadaan bangsa Arab hingga akhirnya mereka mampu meninggalkan keterbelakangan mereka. Lalu seiring pergiliran waktu, kemuliaan wahyu itu diemban oleh berbagai bangsa dari zaman ke zaman, tanpa menanggalkan khazanah bangsa Arab sebagai identitasnya. Di antara khazanah itu adalah bahasa Arab.
Baca: Kupas Tuntas Shalat Sunnah Pada Waktu-Waktu Yang Terlarang
Baca: Apakah Wajib Membaca Al-Fatihah Di Belakang Imam Pada Shalat Jahr?
Sejatinya, motivasi untuk belajar bahasa Arab itu sudah Allah sampaikan secara tersirat dalam beberapa ayat-Nya. Yaitu tatkala Allah menjelaskan identitas Al-Quran sebagai wahyu yang Dia turunkan dengan bahasa Arab, bukan bahasa lainnya di samping motivasi untuk memahami Al-Quran dan menghayatinya yang jamak ditemukan dalam banyak ayat Al-Quran. Allah berfirman tentang ke ‘arab’an Al-Quran:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
"Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur'an berbahasa Arab, agar kalian mengerti." (QS. Yusuf: 2)
Allah juga berfirman,
وَهَذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ
“...Dan (Al-Qur'an) ini adalah Kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ahqaf: 12)
Firman Allah,
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ
"Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur'an itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya adalah bahasa ‘Ajam (non Arab), padahal ini (Al-Qur'an) adalah dalam bahasa Arab yang nyata." (QS. An-Nahl: 103)
Firman-Nya:
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)
“Dan sungguh ia (Al-Quran) turun dari Rabb semesta alam. Yang dibawa turun oleh Ar-Ruhul Amin (Jibril). Ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan. Dengan lisan (bahasa) Arab yang nyata.” (QS. Asy-Syuara: 192-195)
Di sisi lain Allah juga memotivasi para hamba-Nya untuk memahami dan memahami Al-Quran. Jika Al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab sementara ada motivasi agar memahami dan mendalami makna-makna Al-Quran, maka tidak mungkin seseorang dapat memahami makna kandungan Al-Quran sebelum ia mengerti bahasa Arab dan gramatikanya. Artinya kandungan ayat Al-Quran hanya dapat difahami oleh orang yang memahami bahasa Arab. Jika demikian, maka diperintahkan bagi setiap mukmin untuk belajar dan memahami bahasa Arab agar ia dapat memahami kandungan wahyu yang dikandung oleh Al-Quran. Karena setiap mukmin pasti sadar bahwa ia dituntut oleh Allah untuk memahami berbagai pesan-Nya kepadanya yang terdapat dalam Al-Quran. Berikut beberapa ayat Al-Quran yang mengandung motivasi untuk mempelajari Al-Quran.
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran." (QS. Shad: 29)
Firman Allah,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24)
Firman-Nya,
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tidaklah layak bagi seorang lelaki yang telah Allah berikan kitab, hukum, dan kenabian, kemudian ia mengatakan kepada manusia “Jadilah kalian hamba-hamba kepada-Ku dari selain Allah”, namun (pastinya ia akan berkata), “Jadilah kalian kaum rabbaniyun berdasarkan apa yang telah kalian ajarkan dari Kitab (Al-Quran) dan apa-apa yang telah kalian pelajari.” (QS. Ali Imran: 79)
Baca: Iblis Dahulunya Bukan Malaikat!
Baca: Kupas Tuntas Hukum Jual Beli Anjing
Ketiga ayat di atas menerangkan dengan tegas betapa pentingnya memahami dan menghayati Al-Quran. Sebab memahami Al-Quran adalah salah satu tujuan dari penurunan Al-Quran itu sendiri, sebagai tanda tidak terkuncinya hati, dan jalan menjadi generasi rabbani yang merupakan puncak hasil dari dakwah para nabi. Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah mengatakan,
فَإِنَّ نَفْسَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الدِّينِ، وَمَعْرِفَتَهَا فَرْضٌ وَاجِبٌ، فَإِنَّ فَهْمَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَرْضٌ، وَلَا يُفْهَمُ إِلَّا بِفَهْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ ثُمَّ مِنْهَا مَا هُوَ وَاجِبٌ عَلَى الْأَعْيَانِ، وَمِنْهَا مَا هُوَ وَاجِبٌ عَلَى الْكِفَايَةِ
“Maka bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan memahaminya merupakan fardhu lagi wajib. Sebab memahami Al-Quran dan Sunnah hukumnya fardhu dan tidak mungkin dapat difahami kecuali setelah mengerti bahasa Arab. Sesuatu yang perkara wajib tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu hukumnya wajib. Kemudian dari bahasa Arab itu ada yang hukumnya fardhu ain dan ada juga yang wajib kifayah.” (Iqtidhaus Shiratihil Mustaqim I/527)
Imam Asy-Syafii mengatakan,
فَعَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ مَا بَلَغَهُ جُهْدُهُ، حَتَّى يَشْهَدَ بِهِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَيَتْلوَ بِهِ كِتَابَ اللهِ، وَيَنْطِقُ باِلذِّكْرِ فِيمَا افتُرِضَ عَلَيْهِ مِنَ التَّكْبِيرِ، وَأُمِرَ بِهِ مِنَ التَّسْبِيحِ، وَالتَّشَهُّدِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ
“Maka wajib atas setiap muslim untuk mempelajari bahasa arab sesuai kesanggupannya, hingga ia mampu (memahami) syahadat bahwa tiada yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, menggunakannya untuk membaca Al-Quran, dan melafalkan berbagai zikir yang diwajibkan atasnya berupa takbir dan yang diperintahkan kepadanya seperti tasbih, tasyahud, dan lain sebagainya.” (Ar-Risalah I/47)
Ini semua menunjukkan betapa pentingnya bahasa Arab dan belajar bahasa Arab merupakan tuntutan atas seorang mukmin. Sehingga tidak ada alasan bagi setiap mukmin yang memiliki iman yang lurus untuk lari dan enggan mempelajari bahasa Arab. Bahkan para salaf terdahulu amat menekankan agar belajar bahasa Arab. Ini masyhur dari para shahabat. Di antaranya, khalifah Umar bin Al-Khatthab pernah menulis surat kepada shahabat Abu Musa Al-Asy’ari yang isinya,
أَمَّا بَعْدُ، فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ، وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ
“Amma ba’du. Hendaklah kalian mempelajari sunnah dan mempelajari bahasa Arab.” (AR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 25651)
Shahabat Ubay bin Ka’ab mengatakan,
تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ كَمَا تَعَلَّمُونَ حِفْظَ الْقُرْآنِ
“Pelajarilah bahasa Arab sebagaimana kalian belajar menghafal Al-Quran.” (AR. Ibnu Abi Syaibah: 29915)
Shahabat Ibnu Umar dahulu memukul anaknya jika anaknya salah berbicara bahasa Arab[1]. Diriwayatkan dari bahwa Umar pernah mengatakan, “Pelajarilah bahasa Arab karena itu bagian dari agama kalian.”[2] Tabi’in Abdullah bin Al-Mubarak mengatakan,
إِذَا سَمِعْتُمْ مِنِّي الْحَدِيثَ، فَاعْرِضُوهُ عَلَى أَصْحَابِ الْعَرَبِيَّةِ ثُمَّ أَحْكِمُوهُ
“Apabila kalian mendengar hadits dariku, tunjukkanlah hadits itu terhadap para pakar bahasa Arab, lalu nilailah.” (Al-Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah I/255)
Baca: Berkenaan Dengan Mematok Upah Bekam (Hasil Usaha Bekam)
Baca: Mengqadha Puasa Syawal di Bulan Lain
Banyak riwayat yang menjelaskan bagaimana besarnya perhatian para salaf terhadap bahasa Arab. Banyak ucapan para ulama yang menekankan pentingnya belajar bahasa Arab. Ini semua sudah cukup bagi kita agar senantiasa tekun belajar bahasa Arab. Bersabar mempelajarinya dan berusaha untuk memahaminya. Setiap huruf yang dipelajari seorang mukmin dari bahasa Arab akan bernilai ibadah dan berbuah pahala sepanjang ia niatkan ikhlas karena Allah. Karena belajar bahasa Arab itu adalah bagian dari agama ini. Tidak jauh beda dengan belajar tafsir, fiqh, aqidah, tajwid, maupun qiraah, di mana seluruh disiplin ilmu tersebut bagian dari agama ini dan bernilai ibadah ketika mempelajarinya. Maka amat sayang jika syiar Islam yang satu ini ditinggalkan begitu saja. Tidak akan ada yang rugi tatkala syiar ini ditinggalkan selain generasi kaum muslimin itu sendiri. Mari istiqamah belajar bahasa Arab dan bersabar dalam menjalaninya.
Baca: Hukum Mengumandangkan Adzan Dalam Timbangan Madzhab
Baca: Hasil Mengamen, Halal kah?
[1] AR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 29919 dan Al-Bayhaqi dalam Al-Kubra: 2275
[2] AR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf: 29926
Tidak ada komentar:
Posting Komentar